Sempatkah Aku Mengucap Maaf, Tuhan?

Bau busuk itu datang dari benda kokoh yang terpatri di dinding ruang kerjaku. Sepintas aku mengira lembaran surat berharga yang berada di dalam brankasku berubah menjadi seonggok sampah yang baunya menembus pori-pori pintu baja itu.

Otakku berdesing cepat dan mencapai konklusi bahwa pemikiran itu tidaklah dapat diterima logika. Akupun berjalan menghampiri kotak berkode itu dan mengulurkan tangan untuk membukanya.

“Bunda…Bunda! Lihat, tangan ayah menggapai-gapai udara. Bundaaa….cepaaat kemari…Ayah sudah sadar,” lamat-lamat kudengar suara Farrel, anak tunggalku yang kuingat baru berusia 7 atau 8 tahun. Aku lupa persisnya.

Sentuhan lembut pada telapak tanganku membuatku tersentak. Kembali aku berusaha mencerna apa yang sedang terjadi pada diriku. Kilas balik hidupku sedikit demi sedikit mulai mengusik ingatan.

Aku di sini, terbaring tanpa daya di balik selimut tebal yang hangat. Bau karbol rumah sakit terendus hidungku yang patah. Masih sedikit tercium pula bau anyir darah yang menetes dari pelipisku. Ingin kubuka mata untuk menatap wajah Maria Sulesti Pitaloka, istriku yang bagai malaikat itu. Namun, entah mengapa kelopak mata ini tak mau diajak kompromi. Semuanya masih sama : Gelap.

“Sayang, kamu dengar aku? Semuanya akan baik-baik saja. Sebentar lagi Romo akan datang untuk mendoakanmu. Semua akan baik-baik saja. Yesus di sini bersamamu”.

Itu dia. Suara istriku yang merdu menggema di pikiranku. Aku dapat mendengar isakannya, merasakan bibirnya yang menyentuh telingaku dan terus menerus menggaungkan doa Bapa Kami. Ingin rasanya aku membalas genggaman tangannya dan mengucap, “Tidak perlu khawatir, sayang. Jangan menangis, aku tidak apa-apa”. Namun rasanya bibir ini melekat satu sama lain dan jemari ini mengeras layaknya batu.

“Bunda, Ayah menangis,” ujar Farrel pelan. Farrel, arjunaku yang perawakannya sangat mirip denganku, bermuka tirus dan bertubuh kecil. Aku bersedia menyerahkan segala yang kupunya jika aku dapat memeluk Farrel saat ini juga dan meminta maaf padanya karena aku lupa berapa usianya sekarang.

Aku tidak mengerti mengapa Tuhan memberikan cobaan ini dalam hidupku. Aku aktif di gereja, tidak pernah absen mengikuti perayaan ekaristi, bahkan bersedia menjadi pengurus dewan gereja. Apa yang membuatku harus begitu menderita? Selama ini hidupku mulus, tanpa cela. Aku mampu menghidupi anak istriku dengan baik. Paling tidak, mereka tak pernah mengencangkan ikat pinggang karena lapar.

Aku sangat letih sekarang. Aku tidak ingin membebani diriku sendiri dengan berbagai spekulasi yang membingungkan. Aku merasa tidak dapat mencapai equilibrium dalam hidupku. Penat sekali kepalaku.

Saat aku hendak menyerah pasrah pada keadaan, sebuah sinar memasuki area buta yang kurasakan saat ini. Bagaikan radiasi kosmis, sinar itu meluncur masuk menembus alam sadarku. Pancarannya memberikan reaksi luar biasa pada pikiranku dan seolah bertumbuk dengan alveolusku. Aku tercekat, sangat sesak. Kelebatan-kelebatan dalam hidupku terlihat jelas seperti potongan-potongan film..

***

“Ambil saja, Pak Subroto. Ini memang tidak seberapa. Tapi kan lumayan untuk investasi awal”. Kuambil amplop tebal itu dengan ragu. Tidak apalah sekali-sekali menerima sedikit hadiah. Toh ini kan hanya ungkapan terima kasih, pikirku.

Film berganti. Terlihat aku yang sedang berada di depan rumah mewahku, membaca koran sambil menyeruput kopi hangat, dan berseru keras kepada seorang kakek yang meminta sumbangan di luar pagar. Kubanting pintu rumahku karena merasa terganggu akan kedatangan tamu jorok, tak diundang itu.

Kemudian aku melihat anakku, Farrel. Bermain sendiri di kamarnya yang luas sambil bergumam tidak jelas kepada cermin. Sedangkan aku berkutat dengan tetek bengek saham dan berbagai proposal yang memenuhi meja kerjaku.

Seolah memainkan peran sutradaranya, Tuhan kembali memperlihatkan diriku yang selalu pergi ke gereja, duduk di deretan depan dan terlihat mendengarkan kotbah Pastur yang membosankan. Padahal, pikiranku terus melayang ke ruang kerjaku, memikirkan rencana-rencana dasyat yang akan aku lakukan untuk memenangkan tender minggu depan.

Kulihat pula diriku yang sok sibuk mengurus gereja, menyuarakan ide-ide brilian tentang pemberdayaan umat, namun tak sekalipun aku mempedulikan tetanggaku yang baru saja di-PHK dari perusahaannya.

Kemudian potongan hidupku mencapai klimaks. Aku sedang mengendarai Mercedes baru, pemberian klienku yang jumlah kekayaannya dapat memberi makan lima ribu orang.

Aku ingat hari itu. Senin pagi yang cerah di Bandung. Sambil mengendarai mobil elite itu aku menelepon istriku, memberi kabar gembira atas promosi jabatanku. Tak lama, dari arah berlawanan, sebuah truk besar tiba-tiba meluncur tak terkendali ke arahku. Gelembung kesuksesanku meletus hanya dalam sekedipan mata.

Sinar itu pergi tiba-tiba dan bau busuk kembali menusuk indera penciumanku. Gelap kembali datang. Air asin tidak henti keluar dari mataku, merembes ke tulang pipiku. Penyesalan itu begitu menyakitkan. Rasanya jauh lebih perih daripada penderitaan fisik yang aku rasakan saat ini.

Kudengar istriku berkata, “Yesus di sini, sayang. Rasakan kehadiranNya. Di sini. Ia duduk di bangku ini, di sebelah tempat tidurmu. Tidakkah Kau merasakan kehangatanNya? Ia datang untuk mengampuniMu, sayang”.

Benarkah Yesus ada di sini sekarang? Duduk di bangku sebelah tempat tidurku dan menggenggam tanganku? Apakah masih ada waktu untuk minta maaf padaNya? Apakah masih ada kesempatan untuk diampuni olehNya dan menjadi pantas di hadapanNya?

Kudaraskan doa pelan-pelan. Kesadaranku mulai padam, menghitam bersama kesombonganku. Namun, entah mengapa dadaku merasakan entakan gelora keyakinan. Yakin bahwa tak ada kata terlambat untuk bertobat.

Yesus, jika sekarang Kau benar-benar ada di sini, aku ingin Kau mendengarku.
Kumohon dengarlah isi hatiku, meski aku tak lagi pantas Engkau datang kepadaku.
Perkenankan aku bersyukur atas segala hal yang telah kudapat dalam hidupku.
Terima kasih karena kini aku boleh merasakan sedikit dari penderitaan yang Kau alami saat menebus dosaku…
Kini aku menyadari, segala yang duniawi sefatnya hanya sementara saja.
Semua akan kembali padaMu, Sang Empunya Kerajaan Surga.
Kebahagiaanku yang lebih besar adalah dapat memiliki istriku, memeluk anakku, dan menghapus air yang jatuh dari mata indahnya.
Tak seujung jaripun aku ingin menyakiti hati emasMu, Yesus.
Meski aku tak lebih dari sekedar debu di telapak kakiMu, Kau mengangkat derajatku,
bahkan sebelum aku melihat indahnya dunia…
Aku menyadari, cintaMu kepadaku begitu besar dan indah.
Jika ada kesempatan…aku ingin sekali meminta maaf pada mereka yang telah tersakiti oleh kecongkakan hatiku…
Masih sempatkah aku mengucap kata maaf itu, Tuhan?

“Bunda…lihatlah…bibir Ayah bergerak…”

“Ma…a..a…af,” mulutku mengucap gagap. Untuk terakhir kalinya aku merasakan kehangatan yang nyaman memancar dari tubuhku dan kuhirup wangi meneduhkan.

Kuangkat tanganku sebisa mungkin, meski akhirnya terjatuh kembali…. jatuh di bangku sebelah tempat tidurku, tempat di mana Yesus duduk, mengabulkan permohonan terakhirku, dan menyadarkan betapa aku hanyalah manusia yang terlalu lemah di hadapanNya….

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s