Syukurku Padamu Tuhan

Bus kota berpenumpang sedikit ini melaju pesat membawaku bertolak dari lenteng agung ke cempaka putih. Sejak mengerjakan skripsi, aku memang sering bolak-balik ke media tempatku mengumpulkan data penelitian. Jantungku berdegup kencang, tanda semangat yang menjadi-jadi.

“Ini observasi terakhirku. sedikit lagi aku selesai, besok penggandaan dan aku akan sidang,” ujarku dalam hati. Wajah ibuku terbayang samar. Kuingat janjiku untuk membahagiakannya semester ini.

Setibanya di sana, aku disambut dengan senyuman hangat para pewarta media. Aku menjadi satu-satunya kaum hawa di ruangan itu. Dengan canggung, aku bergabung mengelilingi meja bundar dengan papan tulis sebagai pusatnya.

“Selamat malam semuanya,” suara berat redaktur pelaksana itu menjadi tanda bahwa rapat redaksi telah dimulai. Aku merapikan posisi duduk untuk ke sekian kalinya. Kucatat setiap detail percakapan mereka dan meyakini bahwa ini akan menjadi akhir yang baik untuk skripsiku.

Pukul 10 malam aku memutuskan untuk pulang. Perutku ngambek lagi, mungkin ini karena hari pertamaku datang bulan. Dengan langkah gontai, aku berpamitan dengan para kru media. Meski letih, semangatku terisi penuh. Kurasakan, deru nafasku mengalir begitu cepat. Kuingin pulang, mengompres perutku, dan mengerjakan proyek akhir ini. Beberapa langkah lagi, tandasku.

Lalu, dia datang menjemputku. Tanpa rencana.

Awalnya, perjalanan pulang begitu mulus, hingga semuanya menjadi gelap.

Aku terbangun dengan darah mengucur dari kepalaku. Kuseret kakiku. Aku merangkak mencarinya. Kulihat dia sedang terduduk lemas melihat tangannya yang merah. Wajahnya tak kentara lagi. Hanya darah yang terlihat.

Kemudian, sebuah lengan besar mengangkatku.

Aku dirangkulnya. Darahku tertinggal di bajunya.

“Kamu bisa bangun?”

“Bisa. Tolong teman saya. Tolong teman saya,” tertatih, aku memohon.

Aku duduk di bangku depan mobil penolongku. Sedangkan dia terseok lemas di bangku belakang.

Entakan kuat terasa dari perutku. Aku ingin muntah. Kulihat mobil orang baik yang menolongku. Bersih tanpa cela. Aku tidak boleh muntah di sini, pikirku. Kutahan cairan lambung ini dalam rongga mulut sambil mendaraskan doa Bapa Kami tiada henti.

Entah mengapa saat aku diliputi berbagai tekanan yang menyiksa itu, otakku justru berpikir jernih dan logis. Aku mulai menyusun langkah yang kulakukan setibanya di rumah sakit. Kuserahkan dompet berisi KTP dan ponselku pada petugas. Kuberi mereka instruksi agar segera menghubungi keluargaku secepatnya.

***

Seumur hidup, aku tidak pernah takut jarum suntik. Logam runcing itu sering menembus kulitku. Berkali-kali, hingga aku akrab dengannya. Namun kali ini, jarum itu akan menembus kulit kepalaku.

Aku mengerang pasrah. Rambutku dicukur. Dua kali aku disuntik di kepala. Rembesan obat bius membuat kepalaku baal, tidak terasa. Kemudian perawat berkerudung hijau itu mulai menjahit luka-lukaku. Sial, obat bius ini tidak bekerja maksimal. Aku menahan perihnya benang yang menggesek luka basah itu. Namun pikiranku masih jernih. Sembari dijahit, aku menelepon salah satu wartawan di media tempat penelitianku. Aku harus memberitahu orang yang posisinya paling dekat dari rumah sakit ini, pikirku.

Ternyata jarum dan benang tidak menghentikan pendarahan di kepalaku. Cairan kental itu masih saja mengotori baju hadiah ulang tahun dari sahabat-sahabatku. Tanganku kaku karena darah yang menggumpal.

“Bisa bangun? Cuci dulu tanganmu di westafel itu,” ujar perawat yang sangat tidak paham cara merawat pasien. Andai aku kuat, akan kuadukan dia karena mengabaikan hak-hak pasien. Ini fenomena baru. Pasien yang baru dijahit disuruh bangun dan cuci tangan sendiri di westafel? Hebat. Ingin kuacungkan jari tengah padanya. Namun, aku ingat temanku. Jika aku sedikit bertingkah, bisa jadi temanku tidak mendapat pelayanan maksimal.

Aku bersabar. Dengan sisa-sisa tenaga, aku membersihkan darah itu sembari melihat temanku berbaring tak berdaya. Bahkan, dia belum diberi tindakan apapun! Kembali aku berpikir logis, kudatangi satu persatu perawat sialan itu dan memohon untuk menolong temanku secepat mungkin. Dari posisi tidurnya, aku mengetahui bahwa terjadi fraktur di bahu dan rahangnya. Bibirnya pun sobek.

Kemudian, kalian datang. Tiga orang sahabatku datang memeluk aku.

Sejak aku terjatuh, belum ada air asin yang keluar dari mataku.

Namun kalian menangis. Membuat air mataku tumpah tak karuan.

Kali ini aku kalah.

Aku tidak mampu lagi pura-pura kuat.

Kesakitan luar biasa melanda kepalaku. Rasanya seperti mau mati.

Ibuku memohon agar infus segera dipasang. Namun dokter menolaknya.

Aku butuh morfin, pikirku. Sakit ini tidak tertahankan lagi.

Dengan sigap, ibu memaksa agar aku dirujuk ke rumah sakit lain. Aku menurut.

Setibanya di rumah sakit itu, aku pingsan.

***

Setelah CT scan, aku mendapatkan hasil yang menggembirakan. Tidak ada penggumpalan darah di otak. Namun belakangan aku tau, dokter berbisik pada ibuku bahwa aku mengalami gegar otak ringan.

Syukurku padaMu Tuhan. Aku baik-baik saja.

Berada di rumah sakit yang berbeda dengan sahabatku membuat pikiran selalu cemas. Rasa bersalah mulai menggerogotiku. Dia celaka karena menjemputku. Aku kalut ketika kakakku memperlihatkan fotonya pascatindakan medis. Perban menutupi hampir separuh wajahnya. Aku menangis tiada henti. Rosario ini kugenggam erat. Berharap Tuhan berjaga di sampingnya.

***

Ketika pikiranku dipenuhi berbagai tekanan, kamu datang. Rambutmu basah entah karena keringat atau hujan di luar. Kau hanya tersenyum dan mengusap tanganku perlahan.

“Cepat bangun, dek,” ujarmu singkat.

Namun itu sudah cukup menguatkanku. Itu lebih dari cukup.

Kamu ada.

Kamu berjaga.

Satu demi satu dari kalian pun datang.

Membawa lebih banyak senyuman dan kebahagiaan. Semangat itu perlahan muncul. Sejenak aku tidak hiraukan rasa sakitku. Aku bahagia mereka ada. Tawaran bantuan mengalir dari berbagai kalangan. Doaku dikabulkan demikian cepat. Aku meminta malaikat dan Tuhan mengirimkannya secepat kilat.

***

Namun aku melupakan skripsi. Aku hampir menyerah. Aku pending saja, ujarku pada diri sendiri.

Lagipula, batas waktu penggandaan telah usai dan sakit dikepalaku tak kunjung membaik. Tidak akan ada kesempatan lagi. Kecemasan mulai melanda. Mimpi-mimpi yang sudah kutata luntur sudah.

Lagi-lagi di saat yang tepat, kamu datang.

Senyumanmu melemaskan syaraf sakitku yang semula menegang.

“Selesaikan apa yang sudah kamu mulai,” katamu berbisik. Kuingat janjimu untuk mengajakku pergi ke suatu tempat dan menghilang bersama.

Semangat ini kembali menghampiriku. Banyak yang akan kuperjuangkan. Aku harus lulus. Itu jadi harga mati buatku.

***

Pagi itu ada kunjungan para suster. Kalau diingat, ini adalah ketujuh kalinya aku dirawat di rumah sakit dan sudah keempat kalinya aku mendiami paviliun ini. Para perawat di sana sudah sangat mengenal aku. Kata mereka, aku adalah pelanggan tetap. “Semoga ini terakhir kalinya aku menginap di sini ya, suster,” ujarku sambil tertawa.

Hari semakin gelap dan aku semakin bosan berada di ruangan ini. Aku mulai berjanji pada diriku untuk berusaha maksimal. Kuambil komputer jinjing milik kakakku dan aku mulai mengerjakan skripsi di rumah sakit favoritku itu.

aku akan menyelesaikan segala sesuatu yang sudah kumulai.

Para malaikatku tidak henti meneriakkan kata-kata semangat untukku dan untuk sahabatku. Begitu pula dosen-dosen di kampusku. Mereka membantu mengurus perijinan penundaan sidang. Bahkan Pemerintah Kota DKI dan Dinas Kesehatan turut andil membantu.

***

Aku berdoa agar kami semua bisa menyandang gelar sarjana semester ini.

Doaku dikabulkan lagi.

Syukurku padaMu, Tuhan..

Kini, aku dan sahabatku sudah pulih. Berkat doa dan bantuan teman-temanku.

Kami sudah berusaha menyelesaikan tugas kami…

dan kami semua lulus!

Syukurku padaMu, Tuhan..

Kau selalu hadir dengan rencana-rencanaMu.

Kau menghadirkan dia..

menghadirkan mereka..

dan Kau membuka mataku lebih luas tentang arti persahabatan.

Syukurku padaMu, Tuhan…

Kau selalu tau apa yang Kau lakukan dan membuat segala sesuatu indah pada waktunya…

 

satu hal yang aku yakini,

dibalik ujian, selalu ada harapan..

 

 

*p.s : untuk kalian para malaikatku

One thought on “Syukurku Padamu Tuhan

  1. Pingback: Bagaimana Mengatasi Sakit Kepala Setelah Kecelakaan? | agatanarita

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s