Pelukan Sebuah Boneka Beruang

Hari ini saya menyempatkan diri bermalam di rumah kakak. Rumah sederhana dengan dekorasi serba putih itu memang sangat nyaman. Tetapi sebenarnya, ada satu hal yang membuat saya betah tidur di sana: sebuah boneka.

Kakak saya memiliki sebuah boneka beruang yang sangaaaat besar. Boneka berwarna coklat itu memiliki bulu yang lembut dan empuk. Benar-benar teman tidur yang menyenangkan. Enak dipeluk.

Saya jadi ingat, semasa kecil, saya sering diberi hadiah boneka. Sekarang, boneka-boneka itu duduk manis dalam lemari kaca, di sudut rumah. Ibu membungkus boneka-boneka itu dengan plastik dan menaruhnya dalam lemari kaca. “Disimpan sebagai kenangan masa kecil,” ucap ibu.

Saya ingat, dulu saya juga pernah menangis gara-gara salah satu mata boneka saya lepas. Karena saya tidak berhasil memperbaikinya, boneka itu cacat sampai sekarang. Dulu saya berpikir, betapa aneh, wajah boneka itu tetap tersenyum. Dia tidak mengeluh karena salah satu matanya hilang. “Pasti sakit ya?” ujar saya waktu itu.

Waktu kecil, saya juga sering main “ibu-ibuan”. Saya menjadi seorang ibu dan boneka-boneka itu menjadi anak-anaknya. Saya membuat rumah-rumahan dari kasur yang bisa dilipat. Tetangga saya, Eva namanya, menjadi juru masaknya. Kami bermain ibu-ibuan dari siang hingga sore. Rumah saya selalu berantakan, tetapi saya puas. Boneka-boneka tak bernyawa itu bisa membuat saya tertawa senang.

Sekarang, ketika usia saya sudah menginjak angka 22, seringkali saya lupa kalau saya punya kenangan masa kecil yang menyenangkan. Imajinasi masa kecil sesungguhnya merupakan sebuah anugerah Tuhan yang luar biasa. Seorang anak kecil bisa dengan mudahnya membayangkan masa depan mereka. Dengan bantuan boneka-boneka, kasur lipat, dan mainan masak-masakan, seorang anak kecil bisa merefleksikan cita-citanya di masa depan. Menjadi ibu, menjadi dokter, menjadi juru masak, dan lainnya. Seorang anak kecil sering berbicara dengan boneka yang diam, menyuapi, memakaikannya baju tidur, dan memeluknya kencang-kencang tanpa takut dianggap gila.

Sayangnya, sekarang saya bukan anak kecil lagi. Secara usia, dikategorikan “tengah beranjak dewasa”. Saya mungkin sudah tidak pantas main ibu-ibuan, memakaikan baju untuk boneka-boneka itu, atau bahkan mengajaknya bicara. Namun, entah mengapa saya tidak rela melepaskan imajinasi anak kecil itu.

Beberapa kali, saya sering berkhayal seandainya boneka-boneka ini bisa bicara. Kira-kira apa yang akan dia katakan? Apakah dia tidak capek dipeluk terus setiap malam? Apa dia rela menemani saya sampai pagi? Mendengarkan cerita-cerita saya, dan menghibur saya yang sedang letih setelah pulang kerja? Apa dia akan tersenyum dan menepuk pundak saya ketika saya sedih?

Ah…

Nyatanya boneka beruang coklat itu terus membisu.

Dia tak pernah protes meski saya sering menangis diam-diam di pelukannya…

 

“Dewasalah. Namun hati-hati. Jangan sampai terjebak di dalamnya”

~a friend~

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s