Karunia Sepasang Mata

Belakangan ini, kondisi badan saya kurang sehat. Saya terserang virus rubella, salah satu virus penyebab campak yang membuat badan merah dan gatal, tubuh demam, dan perut sangat mual. Beruntungnya saya memiliki seorang ibu yang bekerja di bidang medis. Dalam tiga hari, kondisi badan mulai membaik dan semuanya hampir normal. Ibu merawat saya dengan baik dengan memberi obat antibiotik yang paten dan beberapa jenis vitamin lainnya.

Namun beberapa hari kemudian, saya merasakan sakit di bagian lain, yakni di mata. Mata kanan saya hampir sulit digerakkan. Untuk melihat pun buram. Tekanan tinggi di seputar bola mata membuat saya susah melihat. Mata saya terlihat membesar. Sakit itu merambat sampai ke kepala bagian kanan. Setelah dikompres air dingin dan diistirahatkan, mata kanan saya mulai membaik.

Esoknya, giliran mata sebelah kiri yang sulit diajak kompromi. Saya sempat enggan masuk kerja karena sakitnya sudah sulit ditahan. Pandangan saya mulai memudar. Saya sulit berkonsentrasi. Kalau jalan juga suka nubruk sana-sini. Liputan mengejar berita pun jadi tidak fokus. Akhirnya, saya memaksakan diri pergi ke dokter khusus mata. Karena belum membuat janji dengan dokter, saya melakukan pemeriksaan awal. Dari hasil pemeriksaan, tanpa basa basi, suster langsung merujuk ke dokter spesialis Glaukoma.

“Kenapa saya dirujuk ke dokter spesialis glaukoma? Bukannya itu penyakit orang tua?”

“Bisa terjadi pada siapa saja, dan tanda-tandanya mirip,” kata suster.

Saya mengerti betul apa itu Glaukoma. Glaukoma merupakan penyebab kebutaan nomor dua di asia setelah katarak. Gejala yang saya alami persis gejala glaukoma yang terdapat dalam literatur buku-buku farmasi zaman saya sekolah dulu. Pikiran manusiawi saya langsung melesat ke sebuah kasus glaukoma yang terjadi pada remaja. Jantung ini dagdigdug tidak karuan. Saya cuma bisa berdoa.

Setelah cukup lama diperiksa, ternyata saya tidak mengalami masalah serius. Kemungkinan, ada syaraf yang membuat kinerja mata saya tertekan. Entah itu karena efek benturan ketika kecelakaan dulu, atau karena kondisi tubuh yang memang kurang sehat. Setelah diberi beberapa obat, penglihatan saya mulai membaik.

Tuhan selalu memberi saya pelajaran baru. Selama beberapa hari ini, saya dihadapkan pada situasi lain. Saya sulit melihat. Dunia rasanya juga lain, seperti berwarna abu-abu. Wajah orang-orang terkasih juga tidak nampak jelas. Saat mereka tertawa atau menangis, saya hanya bisa mendengar sebatas suara.

Sekarang, izinkan saya -melalui tulisan ini- mengucapkan rasa syukur yang mendalam atas karunia sepasang mata dari Tuhan. Saya ingin menggunakan mata ini dengan sebaik-baiknya dan melihat banyak hal baik lainnya di dunia.

Saya juga akan berusaha menjaga karunia mata lainnya…

…yang mungkin masih tersembunyi…

…atau bahkan belum terbuka…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s