Seuntai Cerita tentang Dua Puluh Tiga

Matahari nampaknya letih. Ia beristirahat dan gelap pun datang. Semburat cahaya keemasan mengintip dari dedaunan. Malam itu purnama nampak bersinar terang, seolah ikut merayakan.

Tanpa hingar bingar dan kue ulang tahun, dua puluh tiga itu datang.

Menjadi alarm sunyi agar hati mengucap syukur tiada henti.

Dua itu, aku dan Tuhan

Menjadi Tiga, setelah ditambah Kalian

Dua puluh tiga adalah nikmat tak terhingga.

Kami berkumpul di rumah mungil. Doa didaraskan dalam dua cara. Didahulukan dengan lantunan Al-Fatiha, diakhiri dengan doa Bapa Kami dan Salam Maria. Jangan heran, keluarga kami memang beragam warna. Dan malam itu, dua puluh tiga menjadi pengikatnya.

Teringat ketika usiaku menginjak kepala dua. Teman-teman duduk berkeliling dengan lilin di tengahnya. Menepuk pundak, memeluk, menyanyi untukku, dan memberi selamat bertubi-tubi. Kini tak perlu hingar bingar itu. Aku paham, doa mereka akan terus mengalir meski raga tak hadir di rumah mungil.

Lalu kisah berlanjut hingga ke pelosok Bogor. Menumpang kereta api dan menikmati setiap tawa yang hadir terbawa udara. Bergandengan tangan dan berjanji untuk selalu setia. Mengikatkan rasa yang senada meski kita berbeda.

Perayaan selanjutnya ada di sebuah taman kota. Bersama seorang sahabat melihat kura-kura. Berhenti sejenak mencicipi gurihnya kerak telur di pinggir jakarta. Lalu berdendang pulang bersama, membawa janji untuk selalu merajut cita.

Dua puluh tiga

Masih terlalu dini untuk berhenti bermimpi

dan terlalu muda untuk berhenti berlari

Ah, dua puluh tiga

Aku bahagiaπŸ™‚

Image

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s