Terapi No Complaint Week

Minggu ini, saya mencoba melakukan terapi diri yang bernama NO COMPLAINT WEEK. Tidak sepenuhnya berhasil, tetapi sedikit demi sedikit ada kebahagiaan kecil yang tersembul saat saya bisa melewatinya hari demi hari…

Apa itu NO COMPLAINT WEEK?

Virus no complaint week disebarkan kembali oleh @newsplatter, salah satu akun yang saya ikuti belakangan ini. Dari blognya, saya membaca soal program tidak mengeluh dalam satu minggu. Virus ini menyebar dengan cepat. Dampaknya cukup bagus untuk kesehatan pikiran. Dan selama satu minggu kemarin, saya mencobanya.

Coba simak di blognya @newsplatter ini

Saya mengikuti diet mengeluh ini karena saya menyadari, saya mungkin contoh manusia yang ngeselin karena banyak ngeluh. Capek sedikit ngeluh, macet juga ngeluh, kadang ngeluh ngga penting hanya karena bad hair day atau kesiangan bangun tidur. Dan ternyata mengeluh itu merepotkan diri sendiri, bahkan tidak membuat keadaan menjadi lebih baik. Kadang saya mengeluh di twitter, di facebook, atau sekedar sms pacar cuma untuk bilang, “Aduh macet banget nih, berdiri di bus lagi, males deh aku kerja hari ini”. Padahal, tidak semua orang bisa menerima komplain saya. Tak jarang mereka malah terganggu. Tidak semua orang mau bersimpati pada perasaan kesal kita. Mengumpat kepada orang lain atau mengeluh berlebihan di jejaring sosial justru bikin aura negatif buat pembacanya kan? Istilahnya, kita ngga perlu menyebar bete kita ke orang lain. Well, saya percaya kok statement ini: “BETE ITU PENYAKIT NULAR LOH”. Dan perlahan, -melalui misi suci ini- saya berniat membuang penyakit menular itu, pemirsah.

Nah, And Here I Go

#Day1 : Ternyata tidak mengeluh dalam satu hari itu sangatlah sulit. Di hari pertama saya hampir gagal. Namun keinginan yang kuat untuk tidak mengeluh akhirnya memenangkan pikiran saya. Sebagai seorang wartawan, sudah tugas saya untuk meliput acara-acara penting. Saat itu saya kebagian tugas meliput public expose sebuah perusahaan. Perjalanan selama 3 jam penuh dari Tangerang ke Jakarta mesti saya lewati. Saya bangun pagi-pagi agar tidak terlambat dan kehilangan momen. Biasanya, saya akan bilang, “Ah, males banget sih pagi-pagi liputan public expose,”. Tetapi saya berhasil mengerem hal itu dengan satu tarikan napas panjang. Ingat ga boleh ngeluh…ga boleh ngeluh.. Setelah berhasil melewati ujian kemacetan, ujian lain yang lebih besar pun datang: ACARA PUBLIC EXPOSENYA DIUNDUR. Huwoooo….saya kesell banget, tetapi karena inget sedang mejalani diet komplain, saya cuman tarik napas dan elus-elus dada all iz well all iz well all iz well. Apa dampak dari perbuatan kecil ini? Kekesalan saya tidak bertahan lama atau merusak sisa hari saya. Saya bisa menikmati sisa hari dengan baik karena berhasil menerima keadaan di luar recana, hanya dengan mengendalikan sedikit emosi.

#Day2: Kalau biasanya saya bangun agak siang, saya kini mulai membiasakan bangun pagi. Ini agar saya siap menghadapi hari saya yang padat. Belajar dan baca koran pagi soal isu-isu yang harus saya liput hari ini, berdoa, lalu main gitar sebentar untuk menumbuhkan rasa senang. Yah, sayang, di hari kedua saya gagal. Ini karena kemacetan yang udah nggak make sense, empat jam berdiri di bus dengan tas ransel yang berat. Go home macetos, you’re drunk!!

#Day3: Saya dikejutkan dengan seorang narasumber yang meminta ralat di berita yang saya tulis. Sambil mengumpat dan membodohi diri sendiri yang tidak teliti, saya mengakhiri hari dengan kesal. Hari ini saya agak demam. Ingin rasanya diperhatikan oleh orang-orang terdekat. Tetapi kenyataannya tidak demikian. Akhirnya, saya menggagalkan diet komplain di hari ketiga dan tidur dengan mata sembab.

#Day4: Dengan semangat baru, saya tidak ingin gagal lagi. Saya berhasil melewati hari keempat tanpa mengeluh (paling tidak secara lisan atau tulisan). Paling banter, saya mengeluh dalam hati, sambil bilang all iz well all iz well. Hari ini, saya berhasil melewati jalanan macet, berhasil tersenyum saat saya diberi tugas yang banyak oleh redaktur, dan cuma berkata “hmmm…hmmmm” saat seorang teman saya membicarakan keburukan teman yang lain. Saya berhasil menahan diri, dengan kesadaran penuh untuk tidak ikut mengeluh atas tingkah laku orang lain yang menyebalkan.

#Day5: Hari ini dimulai dengan berita Jero Wacik, si Menteri ESDM yang merendahkan wartawan di depan eks-BP migas. Awalnya sih saya selow aja, tetapi lama-lama gerah juga untuk tidak ikutan mengumpat di akun twitter. Pak, bagaimana bisa bapak menjadi menteri? Bagaimana bisa bapak mengatasi kesulitan hanya dengan uang? Akh si bapak ini, bikin saya sebel deh. Well..hari ini termasuk gagal ngga ya?

#Day6: Setelah berhujan-hujanan usai liputan panjang, saya berteduh di coffee shop dekat Sarinah. Malam ini saya latihan futsal untuk pertandingan antarwartawan yang digelar minggu depan. Setelah lelah liputan, saya ingin pulang dan menghangatkan diri, tetapi teringat janji saya untuk main futsal. Akhirnya, saya (kembali) menembus kemacetan menuju lapangan di kuningan. DAN SAYA NYASAR JAUH BANGET. Itu jam 9 malam. Mau muter balik, jalanan macet banget. Akhirnya, saya jalan kaki menuju tempat futsal. Look at the bright side!! Sampai di sana, saya ngga perlu pemanasan lagi kan, karena udah berkeringet. Saya berhasil melalui hari ini tanpa mengeluh, meski kaki pegal-pegal dan badan rontok (eh, itu ngeluh yak) :p

#Day7: Hari ini saatnya pergi ke Gereja. Bertemu dengan banyak teman, dan bersemangat masuk kerja di saat yang lain bersantai di rumah. Hari ketujuh berhasil ditutup dengan senyum dan semangat baru.🙂

Lalu?

Selama menjalani terapi ini, saya membaca (lagi) bukunya Richard Carlson, seorang psikolog dari California yang konsen terhadap cara-cara melatih pikiran. Bukunya yang berjudul Don’t Sweat the Small Stuff wajib dibaca. Walau saya baca versi remajanya (Itu emang buku lama yang saya beli waktu remaja, tapi suer, saya masih remaja, kok. Baru lulus kuliah tahun lalu :p ) tetapi buku itu berguna untuk mengingatkan saya akan program terapi pikiran ini. Menurutnya, kita ngga perlu merisaukan hal-hal tidak penting, tak perlu memuntahkan teman dengan kekesalan kita, dan jangan membiasakan diri dengan menjadi tidak bahagia. Carlson bilang, berdamailah dengan kesalahanmu dan jangan ditipu oleh emosi. Ini sedikit quotenya:

“One of the mistakes many of us make is that we feel sorry for ourselves, or for others, thinking that life should be fair, or that someday it will be. It’s not and it won’t. When we make this mistake we tend to spend a lot of time wallowing and/or complaining about what’s wrong with life. “It’s not fair,” we complain, not realizing that, perhaps, it was never intended to be.”

Hmm..memang yang terpenting dalam hidup ini adalah pemaknaan. Saya banyak belajar dari program diet komplain ini. Walau saya gagal di sana-sini, setidaknya saya sudah mencoba untuk melatih pikiran saya, melatih cara memandang sesuatu dari sisi yang lebih positif. Susah sekali untuk tidak mengeluh, tetapi ternyata bisa kalau mau. Saya sudah mencoba, dan gagal, dan berhasil, lalu gagal lagi. Tidak apa, tidak perlu berhasil seluruhnya, kan. Yang penting, dengan terapi ini, saya sudah mencoba membahagiakan diri saya sendiri dan membuat hari-hari saya lebih bermakna. Tentunya, orang lain juga tidak perlu repot lagi menanggapi keluhan saya yang tak perlu.

Ah, seandainya diet komplain ini bisa membuat badan saya lebih kurus, pasti saya akan lebih semangat menjalaninya!! HAHAHAHAHAHAHAHA  *ketawasetan*.

Cobalah kawan, dan rasakan sensasi kebahagiaannya🙂

“Meanwhile, life keeps moving forward. The truth is, there’s no better time to be happy than right now. If not now, when? -Richard Carlson-

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s