Sunyi

Rambutku bau rempah. Terapis itu tidak tahu kalau aku membenci wewangian itu. Dia bergumam sambil menelusuri petak kanan kepalaku. Memaksaku menengadahkan kepala, memiringkannya, lalu memijatnya sekeras dia bisa. Kakiku menyentak-nyentak. Aku berteriak dalam diam. Pita suaraku sudah hilang semenjak peristiwa itu. Dan sekarang air mataku tumpah, tertelan, hingga aku tersedak berkali-kali.

Kepalaku berdenyut. Jantungku melesat ke kepala. Di dada ini, degup jantung sudah berhenti.

Hingga kemudian aku melihat mata itu. Matamu. Ketakutan yang membelenggu seluruh tubuhku kini telah sirna. Jantung yang ada di kepala sedikit mulai kembali ke tempatnya. Kusyukuri segalanya.

Dan kini kau lihat aku..
Sedang duduk di ketinggian langit
Lalu meluncur tenggelam dalam samudra tanpa batas..

Ah, aku mencintaimu.
Dan sudah lama Tuhan tahu itu
Meski kita memujiNya dengan cara berbeda..
Dia tahu kalau kita tengah berteriak..
Meski tanpa pita suara..
Meski dalam kesunyian yang sama..
Dia selalu mendengarku meneriakkan kata yang sama…

…namamu…

image

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s