Wanita Tua yang Tak Kuingat Namanya

Ular besi itu belum datang. Aku duduk bosan menunggu di bangku plastik reot peron stasiun. Dudukku gelisah, tak sabar untuk menempatkan bokong ini ke bangku yang lebih empuk. Stasiun ini terlalu kecil dan sempit. Manusia dengan tas-tas besar mulai merayap dan menghalangi jarak pandang. Liburanku usai. Aku harus pulang lebih dulu ke rumah, sementara keluargaku melanjutkan liburannya. Aku melihat lagi tiket kereta kelas satu seharga Rp 165.000 itu. “Ongkos Tegal-Jakarta kok murah ya, apa lagi diskon? Nggak jauh beda sama ongkos taksi yang biasa aku tumpangi kalau pulang kemaleman,” ujarku pada ibu.

Lalu, pandanganku tertumbuk pada seorang wanita tua yang baru saja duduk tepat di depanku. Dia tidak membawa tas, hanya sebuah bungkusan plastik hitam yang kuduga berisi pakaian seadanya. Wajah oriental wanita tua itu selintas mengingatkanku pada pengemis-pengemis yang biasa tidur di bawah kolong jembatan…

“Umurnya berapa, mbah?”

“80an,” katanya sambil meremas-remas sesuatu, yang terlihat seperti gulungan kertas usang. Lalu tanpa ditanya, dia bercerita kalau ingin kembali ke Jakarta, tempatnya mengadu nasib. Nenek itu pulang ke rumahnya di Tegal hanya untuk mengurus Surat Keterangan Miskin. “Biar kalau berobat di puskesmas bisa murah,” kisahnya.

Sebagian besar hidupnya dihabiskan di Tegal, namun dia berdarah Cina asli. Rumahnya yang berdinding gedek (anyaman bambu) kini tidak pernah ditinggali lagi. Di Jakarta, nenek ini bekerja sebagai pembantu di sebuah Gereja Protestan. Anaknya yang ia banggakan mesti dibui karena terlibat kasus narkotika.

Hidup miskin di Jakarta, nenek itu tetap bersyukur. Sepanjang ceritanya, tak terdengar umpatan atau penyesalan. “Di gereja kerjanya tak berat. Tidurnya saya tidak di gereja, tapi di kamar sewa,” katanya. Wajah yang letih itu terlihat bersahaja, hanya rasa syukur yang kulihat dari matanya.

Image

Lalu akhirnya, aku mengetahui apa yang tersimpan dalam gulungan kertas terikat karet gelang itu. Selembar tiket, dan beberapa lembar uang ribuan.

Nenek itu memberikan tiketnya padaku. Dia bilang, dia berhasil mendapatkan tiket murah untuk pulang ke Jakarta. Dalam lembaran itu, tertera namanya. Nama orang Cina. Harga tiketnya hanya Rp 19.500, dan tertulis “tiket untuk lansia”. Dan benar saja, ternyata orang tua ini sudah sangat renta, usianya lebih dari 80 tahun. “Untungnya dapat tiket murah, biasanya Rp 30.000,” kata dia terbata.

Kerut-kerut di pipi tua itu merona merah, dia tersenyum saat kusisipkan tambahan rupiah di gulungan kertasnya. Beberapa uang ribuan, selembar tiket untuk lansia, KTP dengan masa berlaku seumur hidup, dan surat berobat miskin dari Pemda, menjadi bekalnya menuju kota polutan kelak.

Lalu, kereta dengan jajaran gerbong kelas satu yang kutunggu datang. Namun, aku sudah lupa akan nikmatnya duduk di kursi empuk dalam gerbong dingin itu. Wanita tua yang tak kuingat namanya itu telah mengajarkan betapa pentingnya rasa syukur dalam kesederhanaan.

Diiringi rintik hujan, ular besiku berlari sombong, meninggalkan si wanita tua yang selalu sabar menanti…sepercik harapan baru dalam hidupnya…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s