“Mama Sudah Tua, Mama Menopause”

Alarm milik mama terus berdering. Namun pemiliknya belum juga terbangun. Aku yang tidur di sampingnya, mengusap tangan mama pelan, “Ma, kerja nggak? Udah jam setengah enam,” kataku mengantuk.

Mama tetap terdiam sambil memegang perutnya. Ia merintih, katanya perutnya sakit. Mamaku itu kuat. Dia tidak pernah bolos kerja cuma karena pusing atau pegal sedikit. Namun, kali ini, mama menyerah. “Teleponin bos mama, mama nggak masuk, sakit banget.”

Aku bergegas membuat teh pahit hangat dan menelepon RS Husada, tempat mama bekerja. Mama memang sudah mengeluh sakit sejak tiga hari lalu. Dia bilang, badannya pegal-pegal, demam, dan perutnya sakit. Sebelumnya, mama sempat terserang thypus.

Kemarin, mama bilang, dia sudah tidak menstruasi lagi sejak bulan lalu. “Kayaknya mama mau menopause. Udah nggak mens lagi. Semua badan sakit. Mama sudah tua, mama menopause,” rintihnya.

Menopause adalah berhentinya siklus rutin menstruasi wanita seiring dengan menuanya usia. Tidak seperti pria, wanita memiliki batas waktu produktivitas. Setiap hari bersamanya, mama bahkan tidak terlihat tua. Padahal, dia sudah berumur 50 tahun dan memang sudah waktunya masuk ke fase menopause.

Dalam beberapa literatur yang kutemukan di internet, masa menjelang menopause cukup mengganggu karena mempengaruhi kondisi fisik dan mental. Misalnya saja, sakit kepala dan insomnia. Menurut sebuah penelitian, tubuh wanita yang akan menopause mengalami kesulitan memproduksi tryptophan sehingga membuat mereka sering sakit kepala dan menderita insomnia. Wanita pre menopause juga akan menderita kembung, badan pegal-pegal dan sakit perut. (www.merdeka.com)

Bukan cuma kondisi fisik. Secara psikologis, masa menopause juga menjadi masa yang “agak” menakutkan. Dalam fase ini, mama juga akan sering gelisah karena kondisi badannya menurun. Di sinilah kami, anak-anaknya harus hadir menemani dia. Membantu dia melewati masa-masa berhentinya siklus rutin itu.

Melihatnya terbaring tak berdaya di tempat tidur, membuatku teringat akan masa-masa saat aku mendapatkan tamu pertamaku, menstruasi. “Mamaaaaa…aku mens! Aku menss! Berdarahh”

Mama dengan cekatan terbangun dari tidurnya dan mengajarkanku menggunakan pembalut. “Nggak apa-apa. Tandanya udah dewasa, harus jaga diri. Ini ditempel di celana dalam. Ganti setiap empat jam ya”. Saat itu perutku sangat sakit, ingin marah, dan aku kerepotan menggunakan pembalut. Lalu mama membuatkanku teh hangat.

Waktu berlari cepat. Aku semakin dewasa, dan mama semakin tua. Kali ini giliran kami, anak-anaknya, yang akan membuatkan Mama teh hangat setiap hari. Membantunya melewati fase yang lumrah dialami setiap wanita. Ketika nanti mama terus menua, dan harus menghadapi masa-masa sulitnya, kami berjanji, akan selalu ada..

Image

We love you ma..

2 thoughts on ““Mama Sudah Tua, Mama Menopause”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s