Gugusan Kepulauan Nan Cantik: PAHAWANG!

Sebut saja kami para jurnalis yang tengah bosan dan butuh sedikit hiburan. Lalu tawaran traveling datang dari seorang rekan. Tak banyak berpikir, saya langsung memutuskan ikut. Tujuannya: Pulau Pahawang, gugusan kepulauan di wilayah selatan Lampung!

Kami berangkat di hari baik, Jumat, 1 Maret 2013. Sistemnya sharing cost. Jadi ada beberapa teman yang mengkoordinir keberangkatan ini, mereka tergabung dalam tim hore benama: Reeyan Travelers. Kami sebagai pesertanya hanya tinggal membayar dan Reeyan yang akan koordinir segalanya sampai kami kembali lagi ke Jakarta. Saat itu memang hari kerja, jadi saya tidak banyak riset tentang pulau ini dan benar-benar mengandalkan tim berpengalaman itu. (mereka menolak disebut travel agent, twitternya bisa disimak di @ReeyanTravelers).

Hari Jumat sebenarnya hari yang hectic buat wartawan pasar modal seperti saya. Soalnya, saya harus menyiapkan berita buat hari Senin juga. (Dan hari Minggu sebenarnya saya masuk kerja. Hehehe. Maap bos, malah keluyuran :p)

Pagi harinya, kami liputan dulu (liputan sambil bawa-bawa tas gembolan, pemirsah) dan malamnya janjian di Slipi Jaya, Jakarta. Kami pergi merakyat, alias ngeteng. Nggak pake jemputan, mobil travel, atau bus damri. Ternyata yang berangkat cukup banyak. Jumlah kami mencapai 30 orang, dan kami dibagi 3 kloter. Bus yang menuju Merak banyak yang lewat kok. Ongkosnya sekitar Rp 15.000- Rp 20.000. Perjalanan menuju merak sekitar 2-3 jam.

Sabtu, 2 Maret, sekitar pukul 00.30 kami tiba di Merak dan menunggu kapal penyeberangan. Ongkos naik kapal ini cuma Rp 11.500. Katanya, setiap 15 menit ada kapal penyebrangan ini. Jadi tidak perlu mengantre lama. Kami pun naik kapal sekitar 3 jam untuk tiba di Pelabuhan Bakauheni Lampung.

Lalu kami melanjutkan perjalanan menuju Dermaga Ketapang. Dari situ, kami akan menyeberang menuju Pulau Pahawang dan Kelagian. Menuju Ketapang, kami menyewa 3 mobil angkutan. Satu mobil bisa muat 10 orang. Setibanya di sana kami naik kapal nelayan menuju Pulau Kelagian, salah satu pulau tidak berpenghuni di gugusan kepulauan Lampung Selatan. Di Pulau Kelagian inilah kami akan bermalam.

Oh iya sebelumnya saya mau mengaku dosa. Dalam kegiatan ini, saya lupa bawa kamera. Bener-bener ketinggalan. Bahkan baju snorkeling juga lupa. (Maklum masih kepikiran kerjaan *alibi* huehe*) Jadi ini beberapa foto yang diambil oleh kawan saya Engge. Dan beberapa foto dari kamera BB saya, jadi maklum ya kalau ada foto yang gelap. Nanti kalau ada foto yang lebih bagus, saya update lagi. :p

Image
Dermaga Ketapang, bersiap menuju Kelagian

Perjalanan kami menyeberang ke Kelagian menghabiskan waktu sekitar 1,5 jam. Namun jangan khawatir, pemandangannya sangat indah. Airnya benar-benar jernih, jadi kami bisa melihat jajaran terumbu karang dan ikan-ikan. Disarankan memang jangan menyeberang terlalu siang atau sore supaya waktu snorkeling bisa lebih lama.

Setibanya di Kelagian, kata pertama yang meluncur adalah “KITA ADA DI MANA NIH? DI LOMBOK ATAU DI PHUKET? HUWAAAA!!”. I swear, Kelagian is awesome place, guys. Perlu dicatat, Kelagian adalah pulau tidak berpenghuni, di situ hanya ada sebuah tempat istirahat, semacam kamar sangat sederhana yang terbuat dari gedek bambu. Kami menyewanya, satu paket dengan makan yang disediakan pengelola.

Image
Pasir Putih Pulau Kelagian
Image
Pulau Kelagian

Pantainya pasir putih seperti bedak bayi. Dan perhatikan gradasi warnanya, airnya bening dari hijau muda lalu semakin ke tengah semakin biru. Cantikkk sekali.🙂

Tak lama, kami bersiap untuk snorkeling. Untuk snorkeling, bisa membawa peralatan sendiri atau menyewa.

Image
Di dalam pulau kelagian

Kami akan snorkeling di empat titik, dihantarkan kapal nelayan yang sudah kami sewa (satu kapal bisa mengangkut 15 orang). Rute pertama, kami menuju Kelagian Kecil. Di sini, jangan lupa memakai fins atau kaki katak, karena banyak bulu babi. Yang belum pernah lihat bulu babi, bisa ngintip di sini

Spot snorkeling kami cukup dangkal dengan terumbu karang yang beraneka ragam. Di situ banyak ditemukan ikan badut, atau yang familiar disebut Nemo. Warnanya kebanyakan biru. Dan akan banyak ditemukan ular laut yang sangat keren.

Image
Bersiap snorkeling

Lalu kami mencari spot snorkeling lain, yakni di Pahawang kecil. Di sini karangnya lebih dalam dan lebih beraneka ragam. Kami membawa bekal makan siang dan menyempatkan makan disalah satu pulau.

Belum puas, kami pindah ke Tanjung Putus. Rasa letih menumpang kapal dari Jakarta, capek bekerja, dan segala stress lenyap seketika saat melihat hamparan terumbu karang yang indah. Benar-benar indah!! (Foto bawah laut menyusul ya).

Saya merasa berenang di akuarium besar, berbagai spesies ikan berwarna-warni tidak enggan menghampiri. Dan ada banyak nemo di sana! Hamparan karang yang indah membujur menuju palung yang lebih dalam. Di situ, ikan yang lebih besar berenang lincah. Akan ada perbedaan suhu menjadi lebih dingin saat saya berenang ke wilayah palung yang lebih dalam. Ini spot yang paling cantik menurut saya. Argh, saya tidak ingin pulang! Ini pengalaman yang luar biasa buat saya.

Image
Menuju Tanjung Putus

Hari sudah sore namun kami memutuskan untuk tetap mencari spot snorkeling lainnya. Namun di spot terakhir, kami tidak snorkeling terlalu lama. Karena banyak ubur-ubur kecil yang menyengat. Tangan dan kaki seperti kesetrum. Tetapi kata teman, itu karena ulah kutu air. Entahlah. Yang pasti, kalau gatal sehabis snorkeling, jangan digaruk, tetapi langsung diberi minyak kayu putih.

PUAS! Seharian bermain air rasanya badan jadi segar dan mata lebih bening karena disuguhi pemandangan yang cantik. Kami pun kembali ke Kelagian dan bersiap untuk mandi. Meski pulau tidak berpenghuni, di Kelagian sudah disediakan kamar mandi dengan air tawar. Ini karena Kelagian menjadi objek wisata favorit di Lampung. Di sana juga ada sebuah warung kecil yang menyediakan minum dan jajanan ringan. Oh iya, selain kami bertigapuluh, tidak ada pelancong lain yang datang, jadi kami serasa berlibur di pulau pribadi. hehe

Malamnya, kami habiskan dengan menikmati langit. Kalau saya sih sembari menelepon narasumber untuk berita yang harus dikirim hari Minggu. Hahaha. Di Kelagian masih banyak sinyal, kecuali bagi mereka yang pakai provider Axis. Namun, di pulau ini listrik hanya dinyalakan setelah maghrib karena menggunakan genset.

Image

Saat kantuk menyerang, beberapa teman sudah masuk kamar. Yang laki-laki, tidur di tenda atau di luar. Saya, Merlinda, dan Eby memilih tidur di gubuk kecil, di pinggir pantai. Rencananya, kami ingin terbangun dengan matahari pagi di depan mata. Tetapi toh kenyataannya, kesiangan juga. hahaha. Jangan lupa, minum obat antimalaria dan pakai lotion antinyamuk yang banyak. Karena nyamuknya cukup ganas.

Image
Saya, Merlinda, dan Eby memilih tidur di gubuk ini. hahaha

Esoknya, hari Minggu 3 Maret 2013, kami pergi ke Pahawang Besar, pulau yang ada penduduknya. Penduduk di sini mencapai 500 kepala keluarga dan sudah mendapat listrik tenaga surya. Pulau kecil ini sudah lengkap dengan sekolah dan tempat ibadah. Namun, kegiatan ekonomi tetap dilakukan di kota. Kami menyambangi sebuah rumah baca dan menyumbang beberapa buku untuk anak-anak pulau.

Image
Rumah Baca Harapan di Pahawang Besar

Pagi hari itu, kami pun melanjutkan snorkeling, tak jauh dari Pahawang Besar. Namun, saya memutuskan tidak menceburkan diri mengingat hari itu saya masuk kerja dan punya kewajiban mengirim berita. Jadilah saya dan beberapa jurnalis lain berteduh di kapal sembari mengetik berita. (Bos nggak tau saya ngirim berita dari mana. Yang penting kan kerjaan beres. Hehehe).

Di spot ini, banyak kerang laut. Saya nggak tau ini kerang jenis apa, tetapi seorang teman menemukan kerang yang sangat besar.

Image
menemukan kerang
Image
salah satu spot snorkeling

Sekitar jam 11 siang, kami bersiap pulang. Saat pulang, gerimis mulai turun. Puji Tuhan, kami bisa tiba di seberang sebelum hujan. Namun di Bakauheni, hujan turun cukup deras. Kami bersyukur bisa melewati liburan ini dengan bahagia dan lancar.

Nah, berapa biaya semuanya? Sharing cost kami sebesar Rp 450.000 per orang, masih sisa Rp 15.000 yang akhirnya digunakan untuk tambahan biaya ruang VIP AC di kapal. Itu semua total bersih,  sudah termasuk makan tiga kali sehari, ongkos pulang pergi Jakarta-Lampung, ongkos sewa kapal, snorkeling, dan sebagainya.

Ah, bahagianya.. Kalau ada rejeki lagi, saya ingin kembali ke pulau ini.

Pahawang, Kelagian, surga bawah laut.. Terimakasih untuk keindahanmu…🙂

Image
tim hore bersama anak pulau

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s