Sederhana

Beberapa saat setelah terpilihnya Paus, pimpinan tertinggi dalam hirarki gereja Katolik, seorang teman mengirim pesan blackberry kepada saya:

“Selamat ya, akhirnya perusahaan MLM (multi level marketing) terbesar di dunia punya CEO baru”

“Lho kok MLM?”

“Lha kan tujuannya memang merekrut orang sebanyak-banyaknya. Iya kan? Hahahaha”

Saya hanya senyum-senyum sendiri membaca pesan itu. Begitukah pandangan dia?

Tersinggung? Ah, tidak.

Perkataan spontan teman saya itu justru menjadi bahan pemikiran yang menarik buat saya.

Saya lantas jadi penasaran tentang beberapa pandangan orang mengenai gereja Katolik. Akhirnya saya iseng memantau twitter. Ada yang menarik dari timeline Ulil Abhsar Abdalla (@ulil). Dia mengkritik gaya hidup gereja Katolik yang katanya mewah, padahal Katolik membawa misi kesederhanaan.

“Seraya teologi yang berpihak pada kaum papa dikembangkan, gereja Katolik sebagai lembaga adalah lembaga yang kaya dan cukup mewah. Gedung-gedung katedral yang mewah dan “majestic” kelihatan jauh dari teologi yang berpihak pada kaum miskin yang diajarkan agama” ujarnya.

Saya pun melemparkan “penemuan” ini ke mailing list (milis) Paguyuban Wartawan Katolik Indonesia (PWKI). Responnya menarik dan cukup beragam. Walau akhirnya, pertanyaan mesti dijawab dengan pertanyaan. “Apakah definisi soal sederhana dan kaya dalam agama?” ujar seorang teman. “Apa yang terlihat secara fisik dari sebuah gedung gereja, merupakan hasil yang dikumpulkan selama bertahun-tahun, bahkan berabad-abad. Dan misi gereja tentang kesederhanaan masih ada sampai saat ini.” ujar teman yang lain.

Lantas, saya memilih untuk tidak membuat kesimpulan utuh dalam diskusi ini. Katolik dengan sejarahnya yang panjang (dan semua agama di dunia ini) memang baiknya mengutamakan ugahari/kesederhanaan, mulai dari dalam hati hingga perbuatan. Sementara atribut gereja, biarlah menjadi simbol rohani yang membantu pemusatan pikiran pada Sang Ilahi. Tidaklah tepat semua itu didefinisikan secara harfiah.

Dean Hamer, seorang ahli Genetika Molekuler dalam bukunya, “Gen Tuhan” membuat batasan mengenai agama dan spiritualitas. Dia bukan ahli agama, dia hanya orang yang mencoba menyingkap alasan “mengapa orang percaya akan Tuhan” dengan prosedur ilmiah. Menurutnya “Spiritualitas bersifat genetik, didasarkan pada kesadaran. Sementara agama didasarkan pada kebudayaan, tradisi, dan keyakinan, serta gagasan”.

Boleh jadi, karena agama adalah kognisi, sehingga menjadikan banyak perdebatan mengenai agama, simbol-simbol dalam agama, tradisi beragama, bahkan benar/tidaknya sebuah kepercayaan. Ini lumrah dan menjadi bahan diskusi dimanapun, seperti yang dipertanyakan Ulil atau teman saya itu.

Spiritualitas dan pengalaman akan Tuhan-lah yang kerap dilupakan. Inilah yang akhirnya, menurut saya, menjadikan manusia kerap berkonflik sengit, berdarah-darah, dengan membawa tameng agama..

Eh, kok jadi melebar kemana-mana. Hehe. Maaf kalau jadi ngalor ngidul, soalnya, saya tidak sedang menulis jawaban atau kesimpulan. Bukan pula tengah mencarinya.

Nah, berbicara soal kesederhanaan, saya jadi tidak sabar merayakan Paskah. Tahun ini, Paskah akan dipimpin oleh Paus baru yang memilih nama pelayanannya: Fransiskus. Paus Fransiskus berjanji akan membawa misi kesederhanaan yakni “Gereja untuk Kaum Miskin”. Misi agung untuk membangun ‘gereja yang rubuh’ dan memberi oase bagi mereka yang papa.

Semoga demikian..πŸ™‚

9bC1ze7fyz
Paus Fransiskus

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s