Menyiapkan Peti Mati untuk Negeri Sendiri

Pejabat berperut buncit itu mondar-mandir santai di gedung kura-kura setengah miring. Dia asyik membaca berita soal dar der dor tahanan di Lapas Cebongan. Berita itu masih hangat seperti kopi dalam gelas kertas yang disesapnya. “Ah, wajarlah ini. Jiwa korsa itu adalah hukum alam, jadi jangan main api nanti terbakar. Jangan pukul wartawan, jangan pukul tentara,” katanya enteng. Disesapnya lagi kopi panas itu.

Justice-Studies_logo

Beberapa kilometer dari gedung miring, Pimpinan Negeri rupanya juga sedang memantau. Pimpinan menilai penyerangan Cebongan merupakan bentuk semangat korsa dari prajurit TNI. “Para prajurit tampil bertanggung jawab, kesatria, dan siap menerima sanksi hukum apa pun. Bagi saya itu melegakan, itu sifat kesatria, bertanggung jawab atas apa yang dilakukan. Itulah prajurit sejati yang harus ditunjukkan kepada seluruh rakyat Indonesia” katanya.

Lalu, berita menyebar di udara, di seluruh penjuru kota. Jejaring sosial memperpendek jarak, menggaungkan kicauan, kecaman, tak terkecuali dukungan. Sebagian menilai, wajar saja kalau preman ditembak mati. Seperti pada zaman orde baru dulu. Petrus – Penembak Misterius dipelihara khusus untuk menembaki preman yang mengganggu warga.

Namun tak banyak yang tahu kalau di sebuah gang sempit yang bau, sejumlah orang ketakutan. Takut kalau-kalau hukum salah sasaran. Hukum sudah tidak adil lagi. Semua main sikat seenak jidat.

Pertanyaannya bukan soal layak atau tidak para tahanan itu mati. Pertanyaannya soal sudah benarkah cara menegakkan hukum di negeri ini.

Itu kisah soal tahanan yang mati. Satu lainnya, kisah soal intoleransi.

Merah putih bisa menangis. Warga terlampau familiar dengan tindak kekerasan. Sampai-sampai peristiwa dirobohkannya bangunan gereja pun, seolah menjadi hal yang lumrah. Lalu belakangan, giliran masjid yang ditutup paksa. Desakan dari preman berjubah rupanya membuat getir pimpinan kota. Nyatanya, di negara hukum pun, mau berdoa saja sulit.

Akh, di atas preman masih ada preman rupanya.

Lalu, saat banyak yang berteriak meminta keadilan, komentar sumbang keluar dari bibir pejabat tertinggi di kementerian agama. “Jangan masalah rumah ibadah itu dibawa ke ranah politik. Mendemo Presiden itu sudah ranah politik,” katanya kepada mereka yang menggelar tikar saat beribadah di depan Istana.

Entah siapa yang sedang dia bela.

Lalu media massa pun tutup usia. Mati ditelan angin kekuasaan dan memoles pencitraan.

Ah, saat semua hal tak wajar ini dianggap wajar, saat keadilan lindang di tangan penegak hukum, saat itu pula, peti mati tengah diukir untuk negeri sendiri.

Salam prihatin.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s