The Spirit Carries On

Where did we come from, 
Why all we here? 
Where do we go when we die?
What lies beyond
And what lay before?
Is anything certain in life?

They say, “Life is too short,”
“The here and the now”
And “You’re only given one shot”
But could there be more,
Have I lived before,
Or could this be all that we’ve got?

If I die tomorrow
I’d be all right
Because I believe
That after we’re gone
The spirit carries on

Salah satu lagu favorit saya. Dream Theater, The Spirit Carries On

Lagu ini mengingatkan akan suatu percakapan dengan mama tadi sore.

Percakapan ini berawal dari sebuah pertanyaan sederhana, saat mama selesai membuatkan secangkir teh bunga chrysanthemum untuk saya yang tidak masuk kerja karena demam.

“Setiap hari kamu berdoa nggak?”

“Kadang-kadang. Tiap pagi berdoa. Tapi kadang suka lupa sih”

“Nggak boleh gitu. Gak boleh lupa berdoa sehari pun. Sengantuk apapun, doa dulu, baru tidur. Terutama doakan orang-orang yang sudah meninggal”

Mama sudah pernah mengucapkan hal itu. Berulang-ulang. Dalam tiap kesempatan, mama selalu bilang pada saya untuk tidak lupa menyebutkan nama-nama mereka yang sudah mendahului kita.

“Kenapa kita harus mendoakan mereka?”

Ah, saya melontarkan pertanyaan retoris. Bukan karena pertanyaan itu tak perlu jawaban. Tetapi karena saya sudah tahu betul apa jawabannya.

“Karena mama percaya kekuatan doa. Mama percaya, saat jiwa-jiwa yang mendahului kita berada di api pencucian, dan kita menyebut nama mereka dalam doa, mereka akan mendapat kesejukan di sana…

dan nantinya, mereka akan mendoakan kita yang masih hidup di dunia ini”

Sebenarnya, ajaran soal mendoakan jiwa-jiwa yang sudah meninggal tertanam sejak kecil saat saya menjadi bagian dari gereja Katolik. Umat Katolik bahkan percaya akan kehadiran para Santo-Santa, jiwa orang kudus yang sudah meninggal.

Mama saya adalah salah satu orang yang sangat yakin bahwa kehidupan tidak berhenti di dunia ini. Masih ada kehidupan setelah kita mati. Sungguh aneh jika kita berusaha memahaminya dengan logika telanjang. Diperlukan lebih dari sekedar logika untuk mengerti teori ‘hidup setelah mati’ tersebut.

Mungkin..

dibutuhkan Iman..

“Hal yang pasti kita hadapi di dunia ini adalah kematian. Makanya, kita harus siap. Karena kematian datang seperti pencuri. Kita tak pernah tahu,” ujar mama.

Saya hanya bisa menyesap teh bunga krisan itu perlahan. Mencoba memaknai kata-katanya. Namun saya kini sadar, absennya saya dalam setiap doa malam mungkin menjadi kerinduan bagi jiwa-jiwa yang sudah mendahului saya.

Semangat mereka akan tetap hidup. Jiwa mereka tidak pernah mati.

If I die tomorrow..I’d be all right…Because I believe..That after we’re gone…
The spirit carries on..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s