Pencarian (1) : Mengenal pada ‘Abdi Tuhan’

Jalanan kota Semarang lengang, jauh berbeda dari hiruk pikuk kota Jakarta. Kami, -saya dan kakak saya, Gayatri- tiba di Semarang pada Senin (15/7) sore. Kami menuju satu tempat: Susteran Kongregasi Abdi Kristus, Ungaran. Kami berencana live in di sana sekitar 4 malam. Jangan tanya tujuan kami apa. Tidak ada kata-kata yang pas untuk menjelaskannya. Sebut saja kami tengah melakukan Pencarian. Bukan Pelarian.

Berbekal informasi dari Romo Yumartana, Pastur pimpinan mahasiswa di PMKAJ-US, kami menemui Suster Theresia, AK. Kami memanggilnya Suster Tere. Beliau adalah pengelola rumah retreat milik susteran Abdi Kristus (AK).

Suster Tere berbaik hati menjemput kami di stasiun kereta api semarang. Setibanya di susteran, kami langsung jatuh cinta pada tempat itu. Dikelilingi pepohonan dan jauh dari kebisingan kota, susteran AK merupakan tempat yang sangat nyaman.

Image
Pemandangan di Kompleks Susteran


Kami mengawali hari dengan berkeliling kompleks. Kompleks itu terdiri dari banyak wisma untuk rumah retreat. Layaknya susteran, ada kapel untuk berdoa dan goa Maria. Di dekat pintu gerbang, terdapat tempat tinggal bagi para biarawati yang sudah berusia lanjut. Di seberang kompleks rumah retreat, ada kompleks untuk pendidikan para biarawati (atau calon biarawati).

Image
Goa Maria

Di pagi hari, kami harus bangun jam 4.30 untuk bersiap-siap mengikuti misa (perayaan ekaristi) yang diadakan setiap hari, pukul 5.30 pagi. Setelah misa, kami langsung sarapan, mencuci baju, menyetrika, dan membereskan wisma. Kami terkadang membantu Suster Tere memasak. Ehmm..iya sih, kami cuma bisa sebatas mengupas wortel atau mencincang bawang. Urusan memasak, Suster Tere dan Suster Scunda ahlinya.

Kami punya waktu yang cukup lengang untuk tidur siang. Kadang, kami menghabiskan sore hari dengan berdoa di depan goa maria. Saya menyebutnya ‘waktu kontemplasi’. Ini termasuk hal yang jarang saya dilakukan selama ini, karena aktivitas saya setiap hari adalah: bangun tidur-mandi-makan-kerja-kena macet di jalan-capek-lalu tidur. Iya, saya jarang berdoa.

Image
Setelah mencuci baju…hehe

Kegiatan Para Novis

Pada hari-hari berikutnya, kami diperkenankan mengikuti kegiatan para Novis. Novis adalah sebutan bagi para biarawati yang masih menjalani masa percobaan/pendidikan sebagai latihan rohani, sebelum mengucapkan janji (kaul) kekal kepada Tuhan.

Para suster selalu mengawali dan mengakhiri hari dengan doa. Kami ikut berdoa penutupan hari pada pukul 18.00 sore. Doa berlangsung sekitar satu jam dengan posisi duduk berlutut. (ehehehe. Agak susah berdoa dengan posisi ini. Di tengah doa, Gayatri nyerah, lalu duduk. Saya sih masih bertahan. Tapi abis doa, langsung susah jalan karena kesemutan. Ahaha. Pada doa berikutnya, kami nggak berlutut lagi, tapi langsung duduk. Nyerah duluan. Maap ya suster :P).

Para Novis memiliki kegiatan yang cukup padat dan disiplin. Dalam setiap kegiatan, ada batasan waktunya. Mereka punya waktu khusus untuk membaca buku, belajar, memasak, bahkan berkebun. Hampir setiap kegiatan selalu diawali dengan doa. Sikap mereka sangat hormat dan anggun.

Image
Perpustakaan di Novisiat. Saya rela dikurung di dalem sini, suster.πŸ˜›

Para novis biasanya menjalani masa pendidikan selama tiga tahun. Setelah itu, mereka akan mengabdi sesuai tugas dari pimpinan. Susteran AK melakukan pengabdian di beberapa tempat seperti sekolah, rumah sakit, dan panti asuhan. Wilayah pengabdiannya pun beragam, ada yang di Jakarta, hingga Papua.

Image
Kebun ini dikelola oleh Susteran AK. Hasil kebun dijual ke pasar.

Malamnya, kami sempat disuguhi selintas pengetahuan mengenai Kongregasi Suster AK. Kami diberitahu kegiatan yang mereka lakukan selama menjadi Novis, hingga mengabdi di berbagai daerah.

Novis yang sudah selesai menempuh masa pendidikan, akan mendapat jubah. Novis tersebut akan didandani dengan baju pengantin. Kalau tidak salah, ini menandakan bahwa novis tersebut siap hidup kekal bersama Tuhan, siap menjadi Pengantin-Nya.

Image
Mengenakan baju pengantin, novis menerima jubah biarawati (Foto dari web suster-abdikristus.org)

Kami banyak berbincang tentang pengalaman spiritual para Novis dan para suster. Kami yang awam, kadang tak habis pikir, bagaimana mereka menjalani semua kehidupan itu dengan bahagia. Tidak menikah, jauh dari hal duniawi seperti uang dan pesta, mengabdikan diri sepenuhnya untuk Tuhan. Bahkan diikat oleh Kaul Kekal.

Image
Suster Tere

Pada suatu sore, kami bertanya kepada suster Tere:

“Suster setiap hari berdoa lalu memasak, mengurusi banyak hal. Suster jarang bertemu keluarga di rumah. Apa nggak bosen?”

“Asal semuanya dilakukan dengan cinta, ya bahagia. Semua hal itu, harus dilakukan dengan rela. Ikhlas. Bernyanyi saja kalau bosan, istirahat kalau capek. Ini kan soal cinta. Cintamu pada pekerjaan, pada sesama, ujungnya, cinta pada Tuhan”

Lalu dia melanjutkan, “Tuhan sebanarnya sudah memanggil kita. Tetapi kadang kita menutup hati dan tidak merasakan panggilanNya. Kita terus mencari, padahal Tuhan sudah lama berdiam diri di hati kita”.

Dari live in singkat itu, kami tidak pulang dengan tangan kosong. Kami belajar banyak hal. Tentang kesederhanaan, keramahan, kedisiplinan, dan yang terpenting: tentang cinta kasih.

Image
Bersama suster Tere setelah memasak.πŸ™‚

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s