Elegi Bus Odong-Odong, Penantian di Tengah Dingin Malam

Akan ada akhir dalam setiap penantian. Namun, penantian bisa membuahkan sesuatu yang diharapkan atau sebaliknya. Bisa menggembirakan, melebihi harapan, atau malah mengecewakan.

Setiap malam, saya menunggu kedatangan bus Mayasari 34 jurusan Blok M – Tangerang. Bus ini nyaman, dengan tarif Rp 7.000. Kursinya empuk, luas, dengan AC yang sangat dingin. Bahkan kadang dilengkapi pengharum ruangan yang menyemprot otomatis. Hmm.. harum. Perjalanan 2-3 jam dari Jakarta ke Tangerang bisa dilalui sambil santai baca buku atau tidur.

Sayangnya, penantian saya yang penuh harapan itu kadang tak berjalan semestinya. Bus ini sulit dijumpai di atas jam 10 malam.

Di tengah penantian yang dingin itu, saya kerap diselamatkan oleh Patas PPD 45.

Kernet Mayasari 34 sering menyebutnya: KEONG. Sementara para penumpang lebih suka memanggilnya: Bus Odong-Odong.

Image
Kenapa?
Karena bus ini sangat buruk. Fisiknya seperti kaleng yang mudah penyok. Tentu saja tanpa AC. Bangkunya juga sempit dan keras. Tarif sampai Tangerang Rp 3.000 saja. Meski reot dan terlihat tak layak, bus ini adalah penyelamat warga perantauan Tangerang yang pulang lebih dari jam 10 malam.

“BUS ODONG-ODONG, ITU MBAK!! LARII, KEJAR!!!” teriak seorang ibu berkerudung biru kepada saya, tergopoh-gopoh, sambil menunjuk-nunjuk. Kami berdua sama-sama warga perantauan Tangerang yang pulang kemalaman.

Kami berlari mengejar bus itu, main sikut, main dorong, berebut tempat di dalam bus. Asal bisa terangkut, sudah cukup. Mereka yang berhasil masuk ke bus, akan menghembuskan nafas sambil bilang, “Alhamdullilah ya Allah,” atau “Puji Tuhan” atau berbagai ungkapan syukur lainnya. Terbayang sudah wajah keluarga yang menanti di rumah.

Berdiri berdesakan berbaur bau keringat yang menyengat adalah suasana biasa di bus odong-odong. Bahkan kadang, di tengah sempitnya ruang dalam bus, rombongan pengamen tetap memaksa bermain orkestra, diiringi semilir angin yang datang dari jendela-jendela yang sengaja dibuka lebar.

Jika harus memilih, masyarakat kelas menengah atas pasti akan lebih memilih taksi dibandingkan menumpang bus odong-odong ini. Tetapi, saya dan ibu berkerudung biru itu cukup nyaman dengan bus keong, penyelamat kami di malam hari.

Kadang, ongkos di malam hari lebih mahal Rp 1.000 dibandingkan di siang hari. “Neng, ongkosnya Rp 4.000 aja yah. Udah malem, setoran kurang. Capek,” kata sang kernet mengusap peluh. Tak ada penumpang yang protes atas kebijakan sepihak itu. Warga perantauan pinggiran Jakarta, ikhlas dan cukup mengerti kondisi ini. Jakarta memang keras, Bung.

Pernah ada teman yang bilang, “Naik angkutan umum itu lebih menyenangkan daripada naik mobil sendiri. Pasti ada saja yang kita jumpai, ada saja yang kita pelajari. Perhatikan wajah-wajah lelah, dengarkan orkestra para pengamen, dan perhatikan bagaimana hidup berjalan dengan begitu banyak warna”.

Saya tersenyum mengamini ucapannya.

Malam ini, saya kembali diantarkan ke rumah oleh bus odong-odong. Dua malam sebelumnya dan dua malam sebelumnya lagi, pun sama.

Sungguh, tak semua penantian akan berujung pada kursi empuk yang nyaman. Kadang harus dilalui dengan penuh keringat dan bau apak. Sayangnya, manusia kerap tak sabar dan mencari jalan pintas. Padahal, tak perlu “helikopter” untuk menempuh jarak Jakarta ke Tangerang. Bus odong-odong pun cukup.

Toh, akan selalu ada kata “Alhamdullilah” ataupun “Puji Tuhan” di setiap ujung perjalanan. Asalkan kita cukup sadar untuk mensyukurinya.

 

4 thoughts on “Elegi Bus Odong-Odong, Penantian di Tengah Dingin Malam

  1. aku malah belum pernah denger ada yang manggil “odong-odong”. Malah baru tau kalau sebutannya odong-odong. Hahaha…
    Paling nyesek, ketemu kernet yang suka “nilep” Rp 500 dengan alasan “duh, ndak ada kembalian, neng…” Inget banget wajah kernetnya. Udah dapet tiga kali setiap pagi. Untung, sekarang udah ndak pernah ketemu lagi :p
    Tetap semangat ya, Narita….

    *toss untuk anak bus kota*

    1. aww…baru baca komennya. Iya banyak yang bilang odong2, terutama ibu-ibu. hehe. Tapi belakangan ini, makin jarang yah bus keong ini. Hmm.. pensiun mungkin..

      *TOSS anak bus kota*

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s