Review Buku: INFERNO karya Dan Brown

WP_20131107_001

Setelah lama ditunggu, akhirnya novel terbaru dari Dan Brown, penulis Best Seller serial Da Vinci Code terbit juga. Novel itu bertajuk Inferno yang konon, artinya Neraka. Inferno yang saya baca ini adalah versi terjemahan Bahasa Indonesia. Heheu. Versi bahasa Indonesia agaknya terbit mundur dari jadwal semula ya. Hmm..

Saya menanti novel ini dengan penuh harap. Maklum, saya penyuka karya-karya Dan Brown. Imajinasinya yang digabungkan dengan fakta historis membuat saya mengaguminya. Beberapa novelnya banyak ditentang sejumlah kalangan. Tetapi bagi saya, selama ini Brown telah membuat karya-karya yang cerdas dan mendebarkan.

Seperti karya Brown lainnya, Inferno merupakan novel thriller, terkait pembunuhan, pemecahan kode, dan melibatkan situasi yang mengancam keamanan nasional. Tokoh utamanya tetap Robert Langdon, seorang profesor dari Harvard University yang ahli dalam simbologi.

Kisah bermula saat Langdon tersadar di sebuah rumah sakit di Florence, Italia, dengan kondisi luka tembakan di kepala. Langdon tak mampu mengingat kejadian yang dialaminya dalam beberapa hari terakhir. Di tengah kebingungannya, seorang dokter dibunuh tepat di depan dia. Langdon pun melarikan diri dari seorang pembunuh yang mengejarnya. Dalam pelariannya, ia dibantu seorang dokter cantik, Sienna Brooks.

Dikejar pembunuh di negara yang asing, Langdon juga dihadapkan dalam situasi yang mengancam kelangsungan hidup jutaan nyawa di dunia. Demi menyelamatkan jutaan nyawa, Langdon dan Sienna dipaksa memecahkan kode dari puisi epik Dante Alighieri, The Divine Comedy. Karya itu menggambarkan neraka sebagai jagat berstruktur rumit, dihuni oleh arwah, yang terperangkap antara hidup dan mati.

Apa sebenarnya yang dicari Langdon? Berhasilkah mereka menghentikan situasi genting tersebut?

Seperti novel sebelumnya, Brown menghantarkan pembaca ke tempat-tempat spesifik yang dilukiskan secara nyata. Bahkan, ketika membaca novel ini, kamu pasti akan penasaran dengan tempat-tempat itu dan bahkan akan berusaha meng-google-nya. Brown berhasil mendeskripsikan tempat-tempat itu secara sempurna.

Sayangnya, bagi saya Inferno adalah sebuah antiklimaks. Di novel ini, Brown kerap mengulang-ulang kisah. Perasaan deg-degan yang biasanya muncul saat saya membaca karya-karya Brown yang lain, tidak berbekas. Dan ketika masalah “keamanan nasional” itu terpecahkan, Brown memberi ending yang tidak memuaskan. Seperti meninggalkan kesan, “Terus apa? Udah gitu aja?”

Di novel sebelumnya, dia mengenalkan saya pada berbagai macam organisasi. Opus Dei, Freemason, Vatikan. Brown membuat saya penasaran dan mencari tau fakta dari organisasi itu. Saya sudah membaca kelima buku Dan Brown lainnya yakni Da Vinci Code, Angel & Demons, Deception Point, Digital Fortress, dan The Lost Symbol. Namun bagi saya, Inferno menduduki rangking paling akhir dari seluruh karya Brown. Brown seperti menyajikan kisah yang terkesan ditulis dengan terburu-buru.

Agaknya, novel ini memang dipersiapkan untuk difilemkan. Gambaran mengenai plot tempat, dan tokoh cukup jelas. Sayangnya, inti dan konflik permasalahan kurang kuat. Peran antagonis yang dimainkan lemah dan tidak membawa suasana yang menegangkan. Bahkan tokoh antagonisnya sudah terlihat samar di tengah cerita. :p

Pembaca setia novel Dan Brown pasti tahu, keunggulan karya-karya Brown -selain sisi fakta historis- juga terletak pada kekuatan tokoh antagonis yang tak terduga. Hmm..saya mungkin akan lebih menyukai versi filemnya nanti dibandingkan buku ini. Mungkin..hehe

Tetapi, Brown berhasil mengajak pembaca berfikir dan lebih cermat melihat sekitar. Dia pandai dalam menyampaikan pengetahuan tentang karya seni, sastra, dan sejarah. Bahkan, Brown mengangkat tema overpopulasi yang mungkin tidak terpikirkan oleh kita sebelumnya. Wah, topik overpopulasi versi Brown ini bisa jadi bahan diskusi lanjutan dengan teman-teman nanti jika sudah membaca novelnya.🙂

Seperti biasa, versi bahasa indonesia dibuat dengan terjemahan yang rapi, tanpa typo. Bahasa yang dituturkan dalam novel juga bahasa yang mudah dicerna namun tetap mengandung unsur sastra. Buku ini tetap menarik untuk dijadikan referensi bacaan tahun ini, bahkan bisa menjadi bahan diskusi ringan dengan kawan-kawan. Bintang tiga untuk Inferno🙂

“Tempat tergelap di neraka dicadangkan bagi mereka yang tetap bersikap netral di saat krisis moral”

Inferno, Dan Brown

 Judul              : Inferno (Neraka)

Penulis           : Dan Brown

Penerbit         : Versi Asli: Doubleday, New York 2013 | Indonesia: Bentang Pustaka

Bulan Terbit    : September 2013, 644 hlm

2 thoughts on “Review Buku: INFERNO karya Dan Brown

  1. komalaree

    setuju, saya juga merasakan kurang greget pada novel ini. biasanya, dalam karya-karya brown sebelumnya, saya ikut terpancing untuk menebak dan ikut memecahkan masalah. sayang sekali ya…. meski begitu, ada suatu hal yang membuat saya tertegun, masalah overopulated-nya, jujur membuat saya merinding saat membayangkan yang akan terjadi kelak jika hal tersebut benar-benar terjadi?

  2. Saya penasaran banget sama Map of Hell…….ketemu juga lukisannya lewat mbah google…hehehe..

    Setuju, kurang klimaks. Tapi tema overpopulasi yang diangkat malah sangat sinkron dengan judulnya, INFERNO

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s