Anak Panti yang Dirampas Haknya

Clara sudah bangun sejak pagi. Dia ingin pintar membaca. Buku kesukaannya adalah buku cerita bergambar. Namun jangan tanya ia mau jadi apa kelak. Dia bahkan tak tahu apa itu ‘cita-cita’.

Pagi itu, hari minggu, pertengahan tahun 2011. Kami berempat, anggota Legio Maria Paroki Santa Helena, berkunjung ke Panti Asuhan Samuel, Gading Serpong, Tangerang. Kami membawa setumpuk buku cerita bergambar. Kami sowan kepada pimpinan panti untuk membacakan cerita kepada anak-anak.

Image

Saat memasuki panti asuhan itu, bau menyengat menusuk hidung. Antara bau ompol dan muntahan. Seorang pengasuh wanita memanggil anak-anak itu. Beberapa anak berkumpul bersama kami, dengan antusias berebut buku-buku bergambar. Mereka haus perhatian.

Beberapa anak sangat nakal, tidak mau diam dan berteriak-teriak. Mereka yang nakal, tidak diizinkan masuk ke dalam rumah. Pintu rumah itu dipasang jeruji.

Image
Dokumentasi Juni 2011 

Menurut cerita pengasuh, tak sedikit anak di panti asuhan samuel yang tinggal kelas. Beberapa anak juga sering bolos sekolah. Bisik-bisik tetangga mengatakan, pengurus panti lalai melakukan tugasnya membina anak-anak. Bahkan, ada rumor bahwa sumbangan dari donatur tidak pernah sampai ke tangan anak-anak yatim tersebut.

Beberapa teman juga bilang, komunitasnya batal memberikan sumbangan berupa uang ke panti tersebut lantaran khawatir sumbangannya hanya sampai ke tangan pemilik. Mereka lebih memilih memberikan bantuan makanan yang langsung bisa dimakan anak-anak saat itu juga.

Belakangan terbukti, rumor itu benar.

Hari ini saya menangis usai membaca beberapa berita dari portal berita yang mengabarkan kalau beberapa anak panti asuhan Samuel berhasil melarikan diri. Mereka berhasil bertemu donatur dan akhirnya melaporkan pemilik panti ke polisi.

Kepada polisi, mereka mengaku telah disiksa, dianiaya, tidak diberi makan, dan -yang sangat biadap- ada anak yang dilecehkan. Bahkan, seorang anak mengaku pernah dipaksa tidur dengan anjing.

Para tetangga yang mengetahui hal ini, enggan melaporkan karena tak ada bukti.

Meski rumor soal penyelewengan dana donatur oleh pemilik panti santer terdengar, masih banyak donatur yang dengan tulus memberi bantuan kepada anak-anak. Saat kami pamit pulang usai membacakan cerita bergambar, beberapa mobil mewah datang ke panti tersebut memberikan bantuan. Donasi melimpah tetapi anak-anak tak terurus.

Saya sempat memperhatikan keadaan sekeliling. Saat itu, kamar mandi anak-anak berada di luar rumah. Kondisinya memprihatinkan dan sangat tak layak. Dalam waktu yang lama, anak-anak ini harus bertahan dengan keadaan serba memprihatinkan. Kini kabarnya, panti itu sudah direnovasi hingga tingkat dua. Tetapi beberapa anak terlihat sangat kurus seperti tidak diurus.

Image
Kamar mandi anak-anak (2011)

Yang memprihatinkan, panti asuhan ini sejatinya memiliki misi yang sungguh mulia. Terlihat dari webnya untuk menarik perhatian donatur, mereka mengutip ayat kitab suci “Siapa menaruh belas kasihan kepada orang yang lemah, memiutangi Tuhan, yang akan membalas perbuatannya” (Amsal 19:17) 

Dari web itu disebutkan,

“Pada bulan September tahun 1999, Pdt. Chemy Watulingas, SH, M.Th bersama sang istri, Pdt. Yuni Winata M.Th, menyerahkan hidup sepenuhnya memenuhi panggilan Tuhan masuk dalam dunia pelayanan—guna menolong dan menyelamatkan bayi-bayi yang secara sengaja terlahir dari kandungan orang-orang tua yang tidak bertanggung jawab. Termasuk juga anak-anak yatim piatu yang membutuhkan pertolongan dan pengayoman serta penghidupan bagi masa depan yang penuh harapan”

Ah…

Memang terkadang kata-kata hanyalah bunga-bunga kiasan semata.

 

 

 

Jika memang benar ada penganiayaan, penyelewengan dana, bahkan pelecehan, aparat harus menegakkan hukum setegak-tegaknya. Usut tuntas sampai akarnya. Media juga harus berjuang untuk terus mengangkat kasus ini hingga tuntas.

Kabar terakhir, anak-anak ini sudah diamankan oleh aparat kepolisian. Namun, sang pemilik, Samuel membantah adanya tindak kekerasan dan ia siap dipenjara jika benar terbukti. Yah, kita lihat saja nanti..

Tentunya kita semua berharap kasus ini tidak terulang di tempat lain. Dan anak-anak yang telah dirampas haknya ini, kembali bisa merasakan kegembiraan dan mendapatkan hidup lebih layak. Semoga Clara dan teman-temannya mendapat tempat yang lebih baik, makin pintar membaca, bisa memilih cita-citanya dan meraihnya kelak.

Dan..semoga kali ini.. keadilan yang menang.

Semoga.

*****

Rujukan berita:

http://news.detik.com/read/2014/02/24/171055/2506916/10/2/pemilik-panti-asuhan-samuel-diduga-pakai-uang-donatur-untuk-perkaya-diri

http://news.liputan6.com/read/835670/lbh-mawar-saron-anak-anak-panti-asuhan-samuel-tidak-sekolah

http://www.tribunnews.com/metropolitan/2014/02/24/cerita-terbongkarnya-penganiayaan-di-panti-asuhan-samuel

2 thoughts on “Anak Panti yang Dirampas Haknya

  1. noniek pujirahayu

    Sedih kl baca, dengar atau melihat anak-anak yg tdk diperlakukan seperti anak-anak. Mereka juga ga pernah minta untuk dilahirkan, ga pernah minta untuk menjadi anak yatim. Ingat, Tuhan lebih mendengar doa anak-anak. Semoga anak-anak dipanti asuhan samuel benar2 mendptkan haknya sebagai anak.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s