Memeluk Ibu Teresa di Kolkata..

Tubuh ini gemetaran dari kepala hingga ujung kaki. Gontai. Lalu air mata mengalir deras tiba-tiba. Tak terbendung lagi.

Biarawati itu menggenggam seuntai rosario sembari menggumamkan doa. Jubahnya berupa sari yang mengerudungi kepala, berwarna putih bersih dengan aksen garis biru di tepinya. Ia tersenyum ramah saat kami datang.

Kami mengetuk pintu utama yang tersembunyi di samping gang sempit nan kumuh. Mother House, tempat para biarawati Charitas mengemban misi, berdiri kokoh di pusat Kota Kolkata, India yang bising dan berbau apak.

Mother House adalah biara tempat Ibu Teresa dan para Misionaris Cinta Kasih memulai karyanya. Di sini pulalah Ibu Teresa menghembuskan nafas terakhirnya dan disemayamkan. Makamnya berada di dalam ruangan khusus yang terus dijaga kesunyian dan kesuciannya.

Hanya papan ini yang menandakan keberadaan Mother House
Hanya papan ini yang menandakan keberadaan Mother House
Di dalam Mother House
Di dalam Mother House

Ibu Teresa dikenal dunia karena telah mendedikasikan hampir seluruh hidupnya untuk merawat orang sakit dan papa di Kolkata (dulu bernama Calcutta). Dia membaktikan dirinya untuk memberi harapan bagi orang-orang terbuang. Dia menggerakkan hati jutaan manusia untuk tak menutup mata pada segala penderitaan di sekitar. Seperti yang ia selalu bilang, “The poor must know that we love them“.

Saya ingin merekam setiap sudut Mother House di dalam pikiran, tanpa banyak mengabadikan gambar. Saya ingin merasakan, bahwa Ibu Teresa betul nyata. Karyanya betul terasa.

Saat melangkah masuk dari pintu utama, terdapat patung Bunda Maria menggendong Bayi Yesus yang meneduhkan. Bangunan bertingkat itu memiliki taman di tengahnya. Kami beranjak ke sudut kanan, ke ruangan yang menaungi makam Ibu Teresa.

Dan ketika melihat kubur keramik itulah.. saya bertelut sambil terisak.

Makam Ibu Teresa di dalam Mother House
Makam Ibu Teresa di dalam Mother House

Saya sendiri tak paham mengapa saya bisa menangis sedemikian hebat. Seperti seorang yang baru ditinggal mati kekasih tersayang. Seperti ada yang berdesir-desir di dalam dada hingga ke perut. Sungguh, saya bukanlah seorang yang tiap hari ingat untuk berdoa, tiap minggu rajin ke gereja, atau melakukan hal-hal rohaniah lainnya.. Tetapi pengalaman rohani yang saya alami kali ini begitu berbekas.

Lalu terlintas kilasan-kilasan wajah seorang ibu tua renta yang selama ini saya kagumi karyanya lewat berita di udara, lewat layar televisi, dan lewat buku-buku yang saya baca. Terlintas wajah-wajah kusam dan kurus di sepanjang jalan Kolkata.

Namun di antara aroma kemiskinan dan penderitaan, terselip harum pengharapan.

motherTeresa-640

Siang itu, sosok Ibu Teresa terasa begitu dekat. Seperti hanya beberapa meter dari jangkauan saya. Mungkin karena keramahannya juga tercermin dari wajah-wajah para biarawati yang berada di sana.

Kala itu, seorang biarawati sedang merangkaikan kelopak bunga berwarna kuning di atas makam Ibu Teresa. Setelah diamati, rangkaian bunga itu membentuk kalimat “Jesus I believe in Your tender love for me. I love You”

Merangkai bunga
Merangkai bunga

Melihat saya menangis, biarawati itu bertanya,

“Mengapa kamu menangis? Apa ada permasalahan berat yang sedang kamu pikirkan?”

“Tidak, Ibu. Air mata saya mengalir tiba-tiba. Saya tidak tahu kenapa,”

“Berdoalah kalau begitu. Berdoalah untuk mereka yang kamu cintai, juga untuk mereka yang menderita,”

Saya dan kakak saya pun berdoa di depan makam bergantian. Dua-tiga pengunjung lain mulai berdatangan. Satu persatu dari mereka bertelut di makam, tak jarang yang menitikkan air mata. Beberapa memilih bersimpuh dengan mendaraskan doa rosario.

Usai berziarah di makam Ibu Teresa, kami diberi sebuah medali kecil berwarna perak, seperti bandul untuk kalung. Medali itu disertai dengan selebaran doa berbahasa Inggris. Keduanya adalah souvenir yang memang diberikan untuk para peziarah.

Dengan malu-malu, saya berbisik kepada biarawati itu, apakah saya boleh mendapat satu lagi medali untuk diberikan kepada ayah dan ibu di rumah. Ia tersenyum sambil bergegas ke sebuah ruangan dan memberi memberi saya… bukan satu, tetapi sepuluh medali perak!

“Ini untuk ibu, ayah, adik, dan teman-teman yang kamu doakan di sini,” katanya. Tak henti-hentinya kami mengucapkan terimakasih padanya.

Museum dan Kamar Sang Ibu

Di ruangan sebelah makam, terdapat museum untuk mengenang pelayanan Ibu Teresa. Kami tak diperkenankan mengambil gambar di Museum itu. Di situ, terdapat berbagai surat asli yang ditulis sendiri oleh Ibu Teresa. Kami diperdengarkan pidato asli yang direkam di kaset tua. Suara Ibu Teresa begitu lantang dan tegas, tak terdengar seperti suara wanita yang letih digerogoti usia.

Lalu, kami diperbolehkan mengunjungi kamar Ibu Teresa. Kamar itu hanya seluas 2×1 meter. Kamar itu juga menyimpan beberapa kalung rosario dan buku doa yang selalu digunakan Sang Ibu. Perlu diketahui, di bawah kamar itu terdapat dapur. Sehingga bisa dibayangkan betapa panasnya kamar berukuran sempit itu, terlebih ditambah udara Kolkata yang selalu terik.

Kamar Ibu Teresa
Kamar Ibu Teresa

Setelah puas melihat-lihat, saya mengakhiri ziarah hari itu dengan mengucapkan salam ke beberapa biarawati yang berada di sana.

Dan hari itu menjadi hari yang tak akan terlupakan sepanjang hidup saya.

🙂

******

Travel Info:

Kalau kamu berkunjung ke Kolkata, jangan lupa berziarah ke makam Ibu Teresa. Bermeditasilah lama-lama.

Kamu bisa masuk ke Mother House dengan gratis. Para biarawati tidak menjual buku atau souvenir apapun. Namun, ada kotak persembahan di situ. Kamu bisa meletakkan beberapa rupee dan meletakkan intensi doa di dalam kotak intensi.

Di samping Mother House, ada sebuah toko rohani, kamu bisa membeli beberapa untaian rosario yang sudah diberkati dan didoakan di atas makam Sang Ibu. Harganya sekitar Rp 20 ribu.

Dari pusat kota, kamu bisa naik monorail lalu melanjutkan dengan naik taksi. Jangan lupa menawar dulu. Karena bisa-bisa kamu mendapat harga yang sangat mahal hanya karena kamu turis. Untuk teknisnya, akan saya posting di tulisan berikutnya.😀

Tetapi sebagai panduan, bisa melihat di web motherteresa.org. Di situ tertera lengkap akses untuk menuju Mother House bahkan kisaran harga taksi yang bisa kamu bayar dari bandara.

Tips saat berziarah:

Mother House dianggap sebagai tempat yang suci. Berhati-hatilah dalam bersikap. Gunakan pakaian yang pantas, dan ubahlah setelan ponselmu ke mode getar agar tidak mengganggu kontemplasi para biarawati.

-Jangan sembarangan mengambil gambar. Di beberapa tempat, seperti museum, tidak diperkenankan mengambil foto.

-Jam berkunjung adalah jam 8 pagi hingga 12 siang. Jam 3 sore hingga  jam 6 sore. Bisa dikunjungi setiap hari kecuali hari Kamis. Mother House tutup setiap tanggal 22 Agustus, Senin paskah, dan 26 Desember setiap tahunnya.

🙂

4 thoughts on “Memeluk Ibu Teresa di Kolkata..

  1. wow…
    Keren keren keren, Narita!
    Aku baca juga ikutan merinding…
    Oh iya. Apakah rangkaian bunga itu diganti setiap hari? Pas kamu datang, pas ada yang merangkai bunga…

    Menunggu postingan berikutnya😀

    1. Iyaaa. aku kalau ngebayangin masih merinding. Nggak tau kenapa tempat itu magis banget. Hahahaha. Rangkaian bunganya diganti setiap hari, tulisannya juga beda-beda. Bunga yang udah kering dikumpulin dan boleh dibawa pulang peziarah.🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s