Belajar dari Kelas Inspirasi

InstagramCapture_298c82ac-9d9e-412f-a0d5-80ed4c146650_jpg

Malam itu, 20 Agustus 2014, saya gelisah bukan main. Tidak bisa tidur semalaman. Alasannya sepele. Besok saya harus mengikuti program kelas inspirasi yang diprakarsai perusahaan tempat saya bekerja, Kompas Gramedia. Dalam program itu, saya harus mengajar di kelas 2 SD dan kelas 3 SD.

“Tolong beliin gunting, sama buku bergambar dong. Plis,” ujar saya pada kakak.
“Yan, kamu kan guru SD, kalo ngajar itu ngapain aja sih?”

Norak banget. Saya pernah mengajar ekskul jurnalistik di hadapan anak SMA. Tetapi itu cuma beberapa kali dan ini jelas berbeda. Ini anak SD.

Sekedar info, program ini punya konsep persis seperti program kelas inspirasi Indonesia Mengajar versi Anies Baswedan. Tahun lalu, Kompas bekerja sama dengan Indonesia Mengajar. Saat itu, para pimpinan perusahaan ditantang untuk mengenalkan beragam profesi kepada para siswa.

Nah kali ini, Kompas membuat program sendiri. Pesertanya adalah para karyawan Kompas Gramedia. Para karyawan ini secara sukarela mendaftarkan diri sebagai pengajar. Tugas mereka adalah memperkenalkan profesi yang mereka jalani kepada para siswa SD kelas 1 sampai kelas 6. Makanya tema Kelas Inspirasi Kompas angkatan pertama ini adalah “Berbagi Cerita, Tumbuhkan Cita-Cita”.

_MG_8269

Dengan sangat sok, saya ikut mendaftar sukarela. Tujuan saya? Ingin mengenalkan profesi wartawan. Serius. Kebanyakan anak-anak pasti maunya jadi dokter dan pilot. Yang punya cita-cita jadi wartawan dari kecil pasti karena bapaknya wartawan juga. :D  Tujuan lainnya tentu saya ingin dapat pengalaman dan pembelajaran baru.

Kami diberi waktu seminggu untuk mempersiapkan diri. Mulai dari menyiapkan materi dan riset soal profil sekolah sasaran. Deadline redaksi dan tugas liputan membuat saya lalai dalam hal persiapan. Padahal itu paling penting. Itulah kenapa pada malam hari sebelum Hari-H, saya pusing bukan main. Akhirnya saya memutuskan untuk mengajak siswa bermain dan membuat pohon cita-cita sembari bercerita tentang profesi wartawan.

Lalu datanglah hari itu.

Kami dibentuk dalam tim. Satu tim terdiri dari 10 orang akan mengajar di satu sekolah. Saya dan tim mendapat bagian mengajar di SDN 05 Pagi Grogol Utara. Sekolah sasaran memang sekolah yang letaknya dekat di sekitar lingkup kerja Kompas Gramedia.

Pagi itu, cuaca cerah. Kami berkumpul di lapangan bersama para siswa. Kami memperkenalkan diri dan profesi kami masing-masing. Lalu, kami pun masuk ke kelas masing-masing.

SUDAH SAYA DUGA WAHAI PEMIRSAHHH!!!!

Menjadi guru bukan semata-mata kamu menerangkan di depan kelas, diikuti dengan siswa yang duduk diam dan mendengarkanmu dengan cermat. Menjadi guru harus penuh strategi. Menjadi guru harus kuat mental. Menjadi guru harus siap menjawab pertanyaan yang entah ada jawabannya atau tidak.

“Ibu guru.. Cita-cita saya jadi pocong. Boleh kan jadi pocong?”

“Hah. Ke..kenapa jadi pocong. Bagusan juga jadi polisi bisa tangkap orang jahat”

“Karena saya suka loncat-loncat kayak gini. Kayak pocong,”

“O..okay..tapi nak, jadi pocongnya di bawah aja.. i..itu meja, turun ya..turun dari meja, plis,”

*lapkeringet*

Inilah yang saya hadapi. Kelas dua ternyata kelas paling heboh di situ. Hampir seluruh siswa tidak mau duduk di tempatnya. Akhirnya, kegiatan banyak diisi dengan menyanyi dan menari seperti berjoget ayam bebek. Mereka sangat senang. Kemudian kami bertepuk semangat.

Guru juga harus menjadi contoh bagi muridnya. Harus pandai membaca situasi dan menghadapi beberapa macam karakter anak, termasuk mereka yang berkebutuhan khusus.

Kelas dua
Kelas dua

Di kelas tiga, suasana lebih kondusif. Di kelas ini, saya berpartner dengan rekan seperjuangan yang super kreatif, Gandes. Di Kompas Gramedia, Gandes berprofesi sebagai penulis iklan atau copy writer. Ia mengenalkan profesinya dengan cara mengajak murid-murid untuk mempromosikan Pisang dengan materi gambar.

Dari situ saya belajar kalau anak-anak kelas kecil lebih tertarik distimulasi dengan gambar, visual, dan prakarya dibandingkan dengan materi belajar satu arah. Di luar dugaan, anak-anak ini mampu menghasilkan kreativitas “Iklan Pisang” yang menarik.

Ini iklan pisang yang sangat enakkk. (Foto oleh Gandes)
Ini iklan pisang yang sangat enakkk. (Foto oleh Gandes)

Dari kelas inspirasi ini saya belajar, guru harus pandai mengambil alih perhatian saat pikiran murid terdistraksi oleh hal lain. Gandes misalnya, saat kelas begitu berisik, ia mengalihkan perhatian dengan mengajak murid lomba diam.

“Hayo…yang paling diam, akan mendapat mahkota kebaikan,” katanya.

Ia pun menempelkan “stiker cemberut” di baju anak yang nakal dan “stiker senyum” untuk anak yang baik. Yang paling banyak mendapat stiker senyum juga akan mendapat mahkota kebaikan.

Lomba anak baik
Lomba anak baik. Lucu ya.. hehe
Ini dia yang dapat mahkota kebaikan
Ini dia yang dapat mahkota kebaikan
Gandes
Gandes menjelaskan soall profesi penulis iklan

Dibandingkan murid yang belajar dari saya, nampaknya, sayalah yang lebih banyak belajar dari mereka. Bahwa materi belajar tak melulu soal buku. Tetapi juga soal membenamkan kreativitas dengan mengajak bercita-cita setinggi-tingginya.

Di akhir kegiatan belajar, kami mengajak para siswa menulis surat untuk orang tua. Surat itu berisi cerita tentang cita-cita mereka saat dewasa kelak. Nantinya, surat itu akan diberikan kepada orang tua murid saat pembagian raport di bulan Desember ini.

InstagramCapture_a9d19156-2deb-40db-b972-6a7892ac377e_jpg
“Mama papa, aku punya cita-cita. Tapi cita-citaku menjadi guru. Doain ya ma..pa..” :’)

Lalu, saat jam pulang sekolah, kami menerbangkan “Balon Cita-Cita”. Balon udara ini sudah ditempeli stiker yang bertuliskan cita-cita mereka.

Tawa kebahagian bukan hanya terlihat di wajah anak-anak, tetapi juga kami para peserta kelas inspirasi

Saat itu, saya membawa pulang begitu banyak cerita bahagia.

Mengajar adalah cara untuk berbagi tanpa harus kehilangan sesuatu. 

Sambil menatap balon-balon itu terbang, saya berdoa..semoga cita-cita para pejuang cilik ini dipeluk Tuhan.

Di situ juga terselip satu harapan, semoga kelak, saya bisa menjadi bagian dari cita-cita itu dengan menjadi guru…

… suatu hari nanti.🙂

InstagramCapture_5546bdaf-7812-4c3a-a59e-f61148d14351_jpg

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s