Nelly dan Sekotak Penuh Tawa

InstagramCapture_2ad39af3-d1c1-4b06-a962-bece33981192

Tak kan pernah kulupa bagaimana raut wajahnya saat ia tertawa. Tulus dan jujur, seolah ingin membuat tawa itu abadi di hati setiap orang yang ia jumpai.

Nelly Permata Sari Sembiring. Sahabat paling tangguh yang pernah kukenal. Perempuan yang terus memupuk hidupnya dengan rasa syukur, menyiraminya dengan kepasrahan dan keberanian. Hingga pada puncaknya, ia menjadi mawar yang mekar berkilauan, yang keharumannya tahan lama sampai menembus sukma.

Atas nama kerinduan, izinkanlah aku bercerita lebih banyak tentangnya…

Aku dan Nelly berkenalan sebagai teman satu kelas di Sekolah Menengah Farmasi (SMF) BPK Penabur tahun 2004. Nelly merupakan teman yang baik dan perhatian. Ia senang bercanda, ceplas-ceplos dan apa adanya. Nelly seperti selalu membawa kotak yang isinya tawa dan keceriaan. Setiap bertemu orang, ia membuka kotak itu dan membagi isinya dengan cuma-cuma.

Suatu pagi, saat aku dan beberapa teman asyik minum es teh manis dan makan bakwan jagung, Nelly datang ke sekolah dengan memakai sendal.

“Kenapa kaki lu, nek?”
“Tau nih. Sakit. Kayak ada mata ikan (sejenis kutil) gitu,” katanya.

Kami pun menanggapi biasa saja. Bahkan, karena pembawaannya yang selalu ceria, dia tak pernah kelihatan betulan sakit.

Masa farmasi dilewati dengan penuh perjuangan. Sistem drop out (DO) kalau tidak berhasil naik kelas, membuat kami belajar mati-matian. Namun itulah yang membuatku dan Nelly makin dekat. Kami sering belajar bersama, menginap di rumah teman demi menghafal macam-macam nama tanaman obat sampai pagi.

Lalu kami sering berbincang tentang para cowok yang jumlahnya cuma enam biji di kelas kami. Aku pernah ke rumahnya untuk merayakan ulang tahunnya ke-17 bersama kembaran identiknya, Nella. Keseruan bersamanya yang tak pernah kulupa.

Nelly dan Nella
Nelly dan Nella

Hingga lulus, Nelly berjuang mempertahankan nilainya tetap stabil. Terkadang ia mengeluh kalau kakinya sakit. Tapi lagi-lagi, semua itu terlihat biasa saja. Ia tetap membagi canda. Sepanjang sejarah perjalanan pertemanan kami, aku belum pernah sekalipun melihat air matanya.

Setelah lulus, aku dan teman-teman farmasi, termasuk Nelly, masih sering bertemu dalam reuni-reuni dadakan yang kami rancang sendiri. Pertemanan di lingkaran alumni farmasi ini pun dikukuhkan dengan membuat grup whatsapp.

Sampai pada akhirnya…September 2014

Nelly yang baru masuk grup belakangan, tiba-tiba menyapa:

“Wooi apa kabar?”
“Kabar baik, nek. Lu kemana aja ga ada kabar?”
“Gue kan abis dirawat. Biasa..kaki gue”
“Lah kenapa? Dirawat berapa lama. Ya ampun sorry ya kita pada ga tau”
“Beberapa hari. Tapi lagi pemulihan abis amputasi”

Aku yang tadinya hanya menyimak sekilas perbincangan di grup membaca ulang pesan dari Nelly.

Hah? Amputasi?

Bagai diterjang geledek di siang hari. Aku deg-degan tidak karuan. Percaya tidak percaya.

“Ya ampun, amputasi? Kenapa?” Pertanyaanku telah diwakili seorang teman.

Dengan santainya Nelly membalas,
“Ya diamputasi aja. Soalnya udah kelamaan sakit. Gapapa kok gue,”

Pesan itu kubalas satu kalimat:
“Nel, gue telpon lo sekarang”

Di ujung telepon, aku mendengar suara bernada keceriaan seperti biasa. Dari perbincangan singkat kami di siang itu, aku baru tahu kalau ternyata musibah kesandung batu saat main batminton dulu (yang membuatnya sering pakai sendal ke sekolah) berujung pada kanker jaringan lunak.

Benjolan yang ia sebut mata ikan saat kami SMA dulu perlahan berubah menjadi tumor sebesar telur asin. Lalu ia sempat operasi. Namun, jaringan kanker itu sudah mengakar dan melemahkan syaraf-syarafnya, membuatnya menderita bertahun-tahun, tanpa kami tahu. Bahkan, selama kami bertemu beberapa kali setelah lulus SMA, Nelly tak tampak seperti orang sakit yang menderita tumor ganas.

Aku masih ingat setiap detail percakapan kami di telepon siang itu. Percakapan yang membuat paradigmaku tentang kehidupan, berubah total.

“Nel.. gimana ceritanya? Lo baik-baik aja sekarang? Lo dimana? Sama siapa?” Ratusan pertanyaan ada di benak namun aku seperti tak bisa memahami situasi. Aku terlalu terkejut.

“Iya nar. Inget ngga dulu gue sering ada mata ikan di kaki. Itu ternyata tumor. Dan gue capek bolak-balik operasi, tumbuh lagi- tumbuh lagi. Jadi kemaren pas gue dateng lagi ke Carolus, gue tanya ke dokter: gimana supaya ga tumbuh lagi. Kalo amputasi bisa sembuh nggak. Dokter bilang: bisa. Hari itu juga gue putuskan buat amputasi mulai dari lutut kanan. Ngga bilang ke orang tua..”

Itu adalah pernyataan Nelly yang tidak pernah kuduga. Aku tahu dia anak yang berani. Tetapi tak pernah kuduga, Nelly seberani itu menghadapi masalah yang begitu besar sendirian. Ia tak ragu mengambil keputusan yang akan mengubah total seluruh aktivitas hidupnya.

“Pas lo ngambil keputusan itu, lo mikir apa, kok kayak nekat gitu? Lo bener ngga papa sekarang?”

“Gue cuman mikir pengen sembuh. Capek aja bolak-balik rumah sakit. Dan habis amputasi, gue lebih lega, lebih seneng, walaupun gue harus sabar karena ngga bisa jalan lagi. Tapi kan ada kaki palsu. Nanti kan bisa belajar jalan lagi. Hahaha”

Lagi-lagi, Nelly dan kotak tawanya. Ia dan jiwanya yang besar. Membuatku merasa kecil dan tak berdaya. Aku yang kerap khawatir akan hari esok. Sementara ia selalu berani mempersiapkan dirinya untuk menyambut hari baru.

Merasa bersalah, aku bertanya,
“Kenapa lo ga pernah ngasih tau kita? Maaf ya nel, gue ngga tau kalo selama ini lo lagi berjuang menghadapi itu semua, sorry gue jadi ngga nemenin lo,”

“Hahaha gapapa nar. Emang gue ngga bilang siapa-siapa. Temen kantor aja banyak yang kaget. Gue cuma ijin sakit 10 hari tapi ga pernah bilang untuk amputasi ini. Gue mau ngehadapin ini dengan santai. Ini keputusan terbaik gue. Malah gue nyesel kenapa ngga dari dulu aja amputasi. Sakit itu harus dirasain sendiri. Gue nikmatin prosesnya kok, nar…”

Belakangan kami tahu, keganasan penyakit itu sudah merajam paru-parunya. Nelly tak pernah mengumbar kesakitannya. Ia menerima seluruh sakitnya dengan ikhlas. Satu keyakinan Nelly, Tuhan terus menemaninya, sesakit apapun dia.

Nar, Tuhan ngga pernah salah. Dia ngga pernah ngasih ular beracun sama orang yang minta roti“.

Aku terdiam dan mengakhiri percakapan dengan perasaan campur aduk.

Beberapa hari berikutnya, lewat facebook, aku melihat si kembar Nelly dan Nella melewati perayaan kecil-kecilan ulang tahun ke 26 di rumah sakit. Nelly yang kurus dengan rambut ikal pendek karena pernah dicukur plontos, tersenyum meniup lilin ulang tahunnya.

Aku langsung mengumpulkan teman-teman untuk menjenguk dan merayakan ulang tahunnya bersama. Tanda kasih sayang kepada Nelly banyak mengalir dari para alumni. Kami membeli boneka beruang besar dan donat untuk merayakan hari jadinya. Aku, Yosua, Lusi, Jonson, dan Kory  menjenguk di rumahnya. Kami memeluk dan mencium pipinya. Dia masih Nelly yang sama dengan keceriaan yang tak lekang dimakan rasa sakit.

Selamat ulang tahun Nelly dan Nella!!
Selamat ulang tahun Nelly dan Nella!!

Menghadapi Nelly dengan kondisi fisik yang jauh berbeda tentu membuat kami sedih. Namun, Nely tidak memberi ruang sedikitpun kepada kami untuk meratapi penderitaannya.

Kami lebih banyak bercanda, tertawa, dan mengenang masa lucu selagi SMA dulu. Ia merencanakan untuk mengadakan reuni lagi. Katanya, kaki palsunya sudah datang. Ia mau cepat belajar jalan, sehingga ketika reuni nanti dia sudah bisa mandiri. Sesekali, ia bercerita tentang perasaannya menghadapi itu semua..

“Eh, gue pernah nonton di Kick Andy ya. Ada orang yang lumpuh total. Cuma kepala dan jarinya aja yang berfungsi. Dia bisa loh tetep kerja pake komputer sambil tiduran. Ya ampun. Perjuangan gue ini ngga ada apa-apanya”

WmDev_635560913645512905 (1)

Melihat dia yang begitu kuat dan tegar, aku berbisik,

“Nel.. Lo ngga takut…?”
“Ya takut pernah lah. Sakit. Tapi gue sekarang udah ngerti. Kalo Tuhan mau ambil gue, ngga papa. Jangan pernah takut mati, nar.. Gue, elo, itu milik Dia..”

Iman Nelly terpatri rapi di jiwanya. Ia terus merawatnya dengan rasa syukur. Aku tak pernah menyangka kalau perbincangan tentang hidup dan mati itu adalah percakapan terakhir kami berdua.

Dua bulan setelah itu, roda kehidupan Nelly di dunia fana ini berhenti berputar. Ia memasuki tahap kehidupan yang sesungguhnya. Ia pergi dengan senyum di wajah tirusnya. Sebelum meninggal, Nelly sempat dirawat selama beberapa hari, sampai akhirnya ia koma. Nella bilang, paru-parunya hanya berfungsi 6 persen saat itu. Dan lagi-lagi, saat dirawat, ia meminta keluarganya untuk merahasiakan dari teman-teman.

InstagramCapture_65fedfd5-42bc-4106-a71c-84b76223bc4b (1)

Saat melihatnya telah terbujur kaku dengan alat bantu medis masih melekat di tubuhnya, aku menggigil, menangis sejadi-jadinya. Lalu, aku memeluk Nella erat.

“Jangan nangis nar. Dia ngga pernah pengen orang nangis liat kondisi dia, makanya dia ngga pengen orang tau kalau dia dirawat kemarin,” kata Nella.

Aku menatap Nella yang memiliki wajah identik Nelly. Ketegarannya pun sama dengan Nelly. Tak banyak air mata. Keikhlasannya utuh. Selama bertahun-tahun, Nelly berhasil menanamkan rasa ikhlas dan pasrah ke dalam diri saudaranya itu.

Hingga akhir hidupnya, Nelly mengajariku untuk beriman dengan sederhana, menghayati ke-ilahian-Nya dengan berserah. Bagi Nelly, penyerahan diri kepada Tuhan seutuhnya adalah dengan menghadapi seluruh rasa senang dan sakit dalam kehidupan ini dengan ikhlas. Ia percaya kalau selalu ada terang dalam kegelapan pekat bagi mereka yang tak lupa menyalakan lilin; IMAN.

Kepadaku Nelly bercerita, ia kerap bermimpi untuk bebas mengangkasa melihat dunia. Berwisata di Jepang atau makan mi panas di Korea yang dingin.

Dan pada akhirnya, ia betulan bisa melihat itu semua tanpa beban. Nelly telah menempuh perjalanannya sendiri. Setelah melewati badai dan angin topan, ia terbang bebas seperti rajawali di langit nan tinggi.

Nelly, terimakasih untuk setiap tawa yang selalu kau bagi dengan cuma-cuma. Terimakasih untuk pelajaran terakhir yang kamu beri. Semoga kamu sedang bahagia melihat salju, atau sekedar mencicipi pedasnya mi ramen di Korea.🙂

Melihat pusaramu, aku memahami, betapa manusia hanya mampir sejenak di bumi… demi tempat istimewa yang lebih mulia… Surga-Nya.

Selamat natal Nelly, semoga kita bertemu lagi di kehidupan yang kekal.

WmDev_635560915933497631WmDev_635560914480564265
+in memoriam Nelly Permata Sari Sembiring ( 11 September 1988 – 19 November 2014)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s