Bagaimana Mengatasi Sakit Kepala Setelah Kecelakaan?

298367_bayi-sakit-kepala-_663_382

Hai manteman, apa kabar? Setelah absen beberapa bulan dari blog ini, saya ingin berbagi tips soal mengatasi sakit kepala setelah kecelakaan.🙂

Kebetulan, ada beberapa teman yang mengalami hal yang sama dan masih berjuang menghadapi pascatrauma tersebut. Siapa tahu, ada teman pembaca lain ingin berbagi pengalaman yang sama dengan saya.

Sekitar 3,5 tahun lalu, saya mengalami kecelakaan motor bersama seorang teman. Saat itu, helm terlepas dan kami terpental jauh. Saya mengalami benturan di kepala dan seketika itu darah membanjir.

Puji Tuhan hasil CT Scan sangat bagus yang menunjukkan saya tidak mengalami pendarahan di otak. Saya hanya mendapat sekitar 8 jahitan di kepala dengan suntikan bius lokal. Kondisi saat itu, saya mengalami trauma kepala. Dokter menyebutnya: gegar otak ringan.

Kronologisnya sempat saya tuliskan di sini.

Namun hampir empat tahun berselang, saya selalu mengalami pusing atau sakit kepala, tepat di bagian kanan kepala yang menjadi lokasi benturan saat itu. Kebetulan, saya ada bakat keloid yang membuat bekas jahitan menonjol. Nah, bekas jahitan ini kadang membengkak ketika sakit kepala itu terjadi.

Kejadian ini sempat membuat saya jadi narasumber di segmen kesehatan radio KBR 68H yang membahas topik “Trauma Kepala”. Saat itu, saya diwawancarai bersama seorang dokter spesialis. Sayangnya, saya lupa nama dokternya. Hehe.

Sesuai anjuran dokter tersebut, ada beberapa hal yang saya perhatikan dan pelajari terhadap posttraumatic usai kecelakaan:

  1. Periksakan lagi

Jangan pernah puas terhadap hasil CT scan pertama. Tidak menutup kemungkinan hasil CT Scan bisa berubah. Trauma kepala tidak bisa dianggap sepele terutama untuk anak kecil. Dari pengalaman seorang pendengar KBR saat itu, ada seorang ibu yang anaknya mengalami kesulitan bicara usai jatuh dari meja. Awalnya hasil CT scan menunjukkan hasil bagus. Namun, beberapa tahun setelah kejadian, terlihat ada penggumpalan darah di kepala.

Saya kebetulan sudah dua kali melakukan CT scan dan hasilnya sama. Namun, setelah beberapa kali mengalami sakit kepala yang mengganggu, saya berkonsultasi hingga ke dokter mata dan THT. Kenapa perlu? Karena saat itu saya khawatir cedera kepala mengganggu organ lain, khususnya mata. Saat pusing, mata sebelah kanan saya terasa kabur. Namun sejauh ini, hasilnya sangat baik.

2. Kenali Gejala 

Apa gejala yang dialami usai benturan di kepala?

Selain pusing, pandangan mata menjadi kabur. Mual dan lemas adalah salah satu gejala yang biasa. Pada trauma yang berat, kerap kali pandangan bisa “nge-blank” dan seketika pingsan.

Setiap pasien yang mengalami trauma kepala tentu berbeda-beda dampaknya, tergantung daya tahan tubuh juga sih sepertinya.

Untuk itulah kita perlu mengenal diri kita sendiri. Misalnya, apa pemicu sakit kepala? Apakah sakit kepala akan timbul kalau kita stress, terlalu capek, atau ada penyebab lain misalnya ketika kurang tidur?

Kalau saya, sakit kepala hebat di tempat traumatis bisa terjadi kalau saya kecapekan, kepanasan, kurang tidur, ato ga punya duit *eh. Namun, yang namanya traumatis, tanpa ada pemicu pun sakit kepala bisa terjadi. Itulah yang harus diwaspadai.

Saya mulai belajar menentukan batas toleransi saya terhadap gejala ini. Misalnya, kapan saya bisa mengatasi gejala ini sendiri, dan kapan saya betul-betul membutuhkan orang lain di samping saya (buat jaga-jaga aje. hahah).

Saya membagi si pusing inih dalam level 1-10. Level satu itu, kalau sakit kepalanya biasa aja. Level 8-10 kalau rasanya kaya ada bom mau meledak. *Yailah lebey bet lu nar.

Pas level 8 baru panggil mom. “Mom anakmu sakit kepala nih, tolong diusap-usap sambil dipeluk cihuy dong dan dibeliin eskrim, dan pizza, dan sepatu baru. *lah..)

3. Penerimaan diri

Menerima diri kita sendiri apa adanya merupakan hal penting. Sakitnya jangan dilawan, manteman. Kalau sakit, ya tidur aja atau minum obat. Jangan dipaksa pura-pura tidak sakit. Penerimaan diri ini penting, karena dari konsultasi saya dengan beberapa dokter, dampak pascatrauma sulit hilang bahkan dalam jangka yang sangat panjang.

Seorang teman yang pernah jatuh ketika balita bahkan sampai sekarang terus mengalami rasa pusing. Jadi hmmm, jangan tanya sampai kapan ya pusing ini akan hilang. Tetaplah semangat dan disiplin menjaga diri.

Mumet Aku mas Mumett. [foto dari: https://obatsakitkepalaku.wordpress.com/]
Mumet Aku mas Mumett. [foto dari: obatsakitkepalaku.wordpress.com]
Penonton berteriak: “JADI GIMANA NGATASINNYA WOY?”

Uhm beklah, karena tulisan ini adalah tulisan sharing pribadi, berikut saya sampaikan beberapa hal yang saya lakukan dalam 3,5 tahun ini. Tsailah

  1. Pijet Refleksi

Manteman, kalian yang sering pusing-pusing harus rajin pijet refleksi. Ini ngaruh deh. Suwer. Paling nggak, level pusingnya berkurang jadi level 4 atau 5 gitu. Saya punya dua tempat rekomendasi pijet repleksi. Nanti daku share kalo ada yang butuh, yes. Tentu saja pijat refleksi ini SANGAT MENYAKITKAN dan membuat menangis meraung-raung.

2. Akupuntur

Ini metode jaman dulu tapi lumayan manjur menghilangkan pusing kalo dijalanin rutin. Akupuntur itu ditusuk-tusuk pake jarum tapi ngga sakit sama sekali. Saya cuman beberapa kali jalanin akupuntur soalnya takut pas jarumnya ditusuk ke kepala. Wahahaha.

3. Minum Obat

Obat penolong saya selama ini adalah Analsik. Ini adalah obat analgesik antirematik buat sakit kepala, nyeri pinggang, kolik empedu, ginjal, nyeri otot dan sendi. Isinya adalah Metampiron 500 mg dan Diazepam 2 mg.

FYI, diazepam adalah obat penenang. Jadi efeknya setelah minum ini, bakal langsung pules bobok. Dulu saya dikasih obat syaraf, tapi lupa namanya apa. Nah, belakangan saya merasa obat-obat anti nyeri ini nggak terlalu baik untuk lambung (karena perih). Jadi saya minum obat kalau udah pusing level 7.

Satu lagi, ngga semua obat pusing cocok untuk kita. Sebagian besar obat analgesik menimbulkan alergi. Sehingga, harus dicari obat yang paling tepat sesuai rekomendasi dokter pribadi.

4. Prana

Saya sempat merasakan efek sangat sangat positif setelah ke prana. Prana adalah metode pengobatan dengan perpindahan energi. CMIIW. Manteman bisa cari tau sendiri soal prana. Kata Dokter Ade, rasa pusing yang saya alami hanyalah “Ingatan akan rasa sakit” Sehingga sangat mudah dihilangkan. Hayoo…jadi bisa saja, rasa pusing itu timbul akibat sugesti sendiri.

Nah, inilah hal baru yang sedang saya pelajari, yakni mengatasi rasa sakit dengan sugesti positif. Misalnya, pas pusing, ya jangan mikirin hal-hal yang tambah bikin pusing. Saya lagi belajar banyak membaca, mendengarkan lagu slow, dan sedikit bermeditasi. Mencoba merasakan kalau ada energi positif dari dalam tubuh yang bisa melawan perasaan nyeri itu.

Kameha-meha!

5. Berenang!!

Percayalah gengs, tiga dari lima dokter kece menyarankan berenang untuk mengatasi nyeri pascatrauma kepala. Berenang menjadi olahraga paling ringan karena tidak membebani anggota tubuh manapun.

Sebagai tambahan, saya kadang mengkonsumsi kopi secara teratur (tidak berlebihan) sebagai pengganti analgesik.

Entahlah. Yang jelas, saya merasakan ada perubahan lebih baik dibandingkan dulu setelah menjalani hal-hal di atas.

Demikian sharing hari ini. Saya sangat menantikan sharing teman-teman yang mengalami hal yang sama. Soalnya, sampai saat ini, saya masih berusaha mengatasi nyeri kepala yang sering mengganggu pekerjaan dan hubungan perpacaran tersebut. Halah..

Kalem welah dan teteup semangat.

God bless you!

😀😀😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s