Waspada Penipuan Modus Anak Kecelakaan dan Narkoba

311119_ilustrasi-penipuan-melalui-telepon_663_382

Hati-hati! Modus penipuan via telepon bukan cuma soal “mama minta pulsa” lagi. Yang masih santer terjadi adalah penipuan dengan modus anggota keluarga mengalami kecelakaan atau terjerat narkoba. Belum lama ini, keluarga saya mengalaminya. Berikut kisahnya:

Siang hari sekitar pukul 11, saat anak-anak sekolah sedang berada di kelasnya masing-masing, telepon rumah kami berdering. Kebetulan, Bapak saya yang angkat. Modus awal, penipu berpura-pura menjadi guru sekolah adik saya, L, di SMA X.

  • Penipu: huhuhu…huhuhu (menangis) Halo, bisa bicara dengan orang tuanya L (menyebut nama adik saya dengan tepat)?
  • Bapak: Iya ini bapaknya L. Ini siapa ya?
  • Penipu: Saya ibu M, saya ibu gurunya L di SMA X. Huhuhu…
  • Bapak: (Panik karena tangisan ibu guru makin heboh) Hah ada apa bu dengan anak saya?
  • Penipu: Pak, tadi pas istirahat sekolah, L jatuh dari tangga sekolah. Kepalanya bocor dan sekarang di ICU Siloam (rumah sakit ini dekat dengan sekolah adik saya). Huhuhu.. Kondisinya kritis harus dioperasi. Bapak coba hubungi nomer ini xxxx (memberi nomor telepon) untuk koordinasi langsung dengan pihak rumah sakit. Kami segera kesana.
  • Bapak: YA TUHAN. ANAKKU. YA TUHAN ANAKKU! (Bapak saya panik setengah mati. Terus menangis dan ketakutan. Badannya gemetar)

Kebetulan saya ada di rumah. Saya ikut panik dan nangis karena bapak tidak menjelaskan secara komplit. Ia cuma bilang, “Adek jatoh di sekolah dan kritis”.

Semua terjadi begitu cepat. Boro-boro berpikir logis. Kami panik karena terbayang wajah adik yang berlumuran darah. Saya lari mau manasin motor untuk segera ke RS.

Seperti dihipnotis, bapak langsung menghubungi nomor telepon ‘pihak rumah sakit’ yang diberikan bu guru M. (Dan asal tau aja ya, beneran ada yg namanya bu guru M di sekolah adek saya. Jadi kami percaya)

Percakapan dengan pihak rumah sakit palsu:

  • RS palsu: Pak kondisi anak bapak sangat parah. Kami perlu alat untuk operasi kepala anak bapak. Waktunya terbatas. Kami butuh persetujuan orang tua secepatnya dan butuh mendatangkan alat tersebut. Silakan transfer dulu Rp 5 juta ke rekening berikut. Catat ya pak ada pulpen sama kertas gak?
  • Bapak saya buru2 nyari kertas dan pulpen. Saya mulai curiga.

Saya mendengar bapak saya bicara:

“Berapa nomer rekeningnya? saya segera transfer tapi tolong dulu anak saya. Saya langsung ke RS”

Dari situ, saya langsung tersadar: DUENGGGG! Mana ada RS gegabah begitu minta transfer uang ke nomer rekening nggak jelas. Ini Penipuan!! Langsung saya dan adik saya christy yang juga ada di rumah membagi tugas.

Christy langsung mengubungi SMA X. Dan saya menelepon RS Siloam. Hasilnya, L sedang berada di dalam kelas dengan kondisi BAIK-BAIK aja.

Telepon rumah kembali berdering. Bu guru M menelepon. Kali ini saya yang angkat.

  • Bu guru palsu: Huhuhu (masih nangis palsu. cih). Gimana bu? Apa kata pihak RS? huhuhu
  • Saya: HEH GAK USAH NIPU LO!

Tut tut tut. Telepon langsung dimatikan.

Mungkin situasi saya pernah dialami beberapa orang lain. Dan kenapa eh, bisa hampir ketipu? Ada beberapa hal yang harus diperhatikan karena pelaku cerdik membuat korban lengah seketika:

  1. Penipu sudah mengamati keluarga saya dengan baik. Entah dari mana pelaku mengenal nama adik saya dengan sangat tepat, nama sekolahnya, nama wali kelasnya, dan dia tau aktivitas keluarga kami. Pelaku tau kalau bapak saya biasanya sendirian di rumah pada siang hari. (Untungnya saat penipuan terjadi bapak lagi tidak sendirian. Ada saya sama adik yang bisa langsung sadar. Coba kalo panik sendirian, gak ada yang nyadarin)
  2. Pelaku bertindak pada siang hari, di jam anak sekolah. Biasanya siswa masih belajar di kelas masing-masing dan harus mematikan ponsel saat pelajaran sekolah. Jadi, si anak akan susah dikonfirmasi.
  3. Pelaku menelepon ke telpon rumah sehingga nomornya gak ketahuan.
  4. Pelaku banyak. Di belakang suara ibu M ada suara-suara lain yang juga pura pura nangis panik dan nyebut-nyebut nama adek saya. Seolah-olah beberapa guru sedang berkoordinasi untuk menangani kejadian itu.
  5. Telepon berlangsung sangat cepat dan telepon rumah berdering berkali-kali yang membuat korban makin panik dan nggak sempat konfirmasi ke pihak manapun.

Yang bikin lengah adalah karena pelaku mengetahui identitas keluarga secara rinci. Pokoknya kalau dalam situasi urgent ada permintaan uang, kemungkinan besar itu PENIPUAN.

Nah ada kejadian kedua. Modusnya sama, baru terjadi beberapa hari lalu. Kali ini kejadiannya di malam hari sekitar jam 11 malam, saat mata udah kriyep-kriyep. Pelaku ini cewek lagi, tapi dari suaranya seperti anak remaja. Telepon rumah bunyi beberapa kali. Mati. Lalu bunyi lagi sampai tiga kali. (Lagi-lagi) Bapake yang angkat .

  • Pelaku: Huhuhu papa…huhuhu…aku di kantor polisi, aku dijebak narkoba. Tolongin huhuhu
  • Bapak: (Udah pinter dong) Ini siapa? Kamu siapa namanya?
  • Pelaku: Tolongin huhuhu
  • Bapak: Iya kamu siapa. Nama kamu siapa? Coba siapa? (lah main tebak-tebakan. Telepon beralih)
  • Polisi: Anak bapak ditemukan membawa narkoba. Bisa dijaminkan dulu.
  • Bapak: IYA ANAK SAYA SIAPA? ANAK SAYA YANG MANA? BANAYK ANAK SAYA. SIAPA COBA NAMANYA? SEBUTINNN
  • Polisi: (Ga bisa sebutin nama, mengalihkan pembicaraan)
  • Bapak: WOOOO! NIPU!

Nah, dalam kasus yang ini, pelaku sepertinya menelepon secara random, cap cip cup berhadiah. Dalam hal ini:

  1. Pelaku memilih korban secara acak, tidak tau latar belakang keluarga, ataupun nama. (Seperti kasus mama minta pulsa)
  2. Pelaku berharap korban lengah dan menyebut nama anak. Misalnya yaa: “Papa tolongin akuuu. huhu..” “HAH JAINAB, KAMU KENAPA NAKK”
  3. Nantinya si polisi akan minta uang jaminan untuk membebaskan si anak itu.

Intinya, hati-hati ya. Pelaku penipuan dengan modus semacam ini, memanfaatkan psikologis kita yang pastinya akan lengah, gemeter, panik; ketika salah satu anggota keluarga atau saudara yang kita cintai terkena musibah.

Dari kejadian serupa yang pernah dialami beberapa teman, penipu bisa tahu identitas anggota keluarga di rumah dengan membuat lengah asisten rumah tangga kita. Misal:

  • “Halo bapaknya ada?”
  • “Oh gak ada. Lagi kerja. Ini siapa? Ada pesan?”
  • “Saya dari Citobank, Saya ada perlu penting dengan bapak. Saya mau mendata informasi. Kalau nama lengkap bapak, mbak tau nggak ya?”
  • “Saya nggak tau. Saya cuma tau kalo bapak namanya Tukul”
  • “Oh, kalau anaknya, sedang ada di rumah nggak? Bisa bicara dengan anaknya pak Tukul?”
  • “Oh kalau jam segini, Mbak Similikiti masih di sekolah”
  • “Oh begitu. Baik tolong titip pesan kalau Citobank menelepon ya mbak”

Nah, selain harus memberi instruksi tepat ke Asisten Rumah Tangga, jangan juga sembarangan menuliskan identitas anak, nama sekolah, dsb di sosial media ataupun memamerkan nama keluarga di stiker mobil.

Percaya deh, ketika nama salah satu anggota keluarga kamu disebut terkena musibah, kamu bakal gemeter setengah mati. Jangan lupa, selalu awasi aktivitas keluarga kita dengan saling memberi kabar.

Sekian curhat hari ini.

Semoga makin waspada dan aman sentosa ya semuanya.

😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s