Papandayan dan Babi Hutan Super Jumbo

1476575_10206078774114624_876932854103380065_n

“Hati-hati ya. Simpan makanan dan sampah makanan dengan baik. Banyak babi turun ke bawah,” ujar seorang ranger saat kami meminta pengarahan di posko awal pendakian Gunung Pandayan.

Dan beberapa jam kemudian, kami betulan bertemu dengan babi.. super.. duper.. besar… Dan ini kisahnya.

Pada 29-31 Januari 2016 lalu, akhirnya saya bisa melarikan diri ke gunung lagi. Ini kali pertama saya mengajak kedua adik, Christy dan Loren untuk mendaki gunung. Kami juga ditemani Roger yang sudah berpengalaman mendaki gunung.

Sedikit cerita, pendakian ini adalah perencanaan ketiga dalam dua bulan belakangan, setelah sebelumnya rencana kami ke Pangrango tertunda dan pendakian ke Ceremai batal karena ada tugas luar kota. Papandayan dipilih karena treknya yang cukup landai, cocok untuk pemula, dan pendaftarannya tidak seribet gunung lain.

Ini merupakan perjalanan ketiga saya ke Papandayan, jadi saya sudah sedikit tahu soal akses jalan. Kami memang menamakan perjalanan ini kemping ceria. Jadi kami tak memiliki target tertentu. Yang penting hati bahagia dan pulang dengan selamat.

Setelah menempuh perjalanan 8 jam dengan bus, (Soalnya kami kemalaman dan dapat bus rute jauh) kami tiba di pos pendakian Papandayan sekitar jam 10 pagi. Setelah mengisi energi, kami langsung trekking, dan sampai perkemahan Pondok Saladah sekitar jam 15.00. Karena cuaca sangat cerah, kami sengaja berjalan santai.
12592417_10208929862349735_1584208474792552396_n

Kami mendirikan tenda di Pondok Saladah, masih di tanah lapang, namun agak ke atas. Roger sempat usul untuk ambil posisi yang lebih tenang, agak masuk ke dalam hutan agar jauh dari keramaian. Kami memang ke gunung untuk cari tenang.

Tapi sekarang, pendaki papandayan memang banyaknya minta ampun. Dan sumpah, mereka berisik (ada yang bawa gitar segala dan teriak-teriak). Saya menolak untuk ngecamp di spot yang terlalu masuk ke hutan, karena selain jauh dari sumber air, saya takut itu menjadi jalur babi hutan.
image (3)

Dan ternyata benar!

Rumor soal banyaknya babi hutan di Papandayan memang santer terdengar. Beberapa tahun belakangan, serangan babi hutan hingga ke perkemahan sering sekali terjadi. Mengingat nasihat ranger, setelah selesai makan kami langsung menyimpan makanan dengan sangat baik.

Kami tidak menyisakan makanan yang sudah kami masak. Lalu, perlengkapan memasak langsung kami cuci bersih agar tidak ada sisa bau makanan. Semua sampah kami satukan dalam trash bag lalu digantung di pohon. Tidak lupa, kaleng kornet yang sudah terbuka dan bahan makanan lainnya dipacking ulang ke plastik dan dimasukkan ke dalam tenda.

Sekitar jam 11 malam setelah ngobrol asyik dan perut kenyang, kami siap masuk sleeping bag masing-masing.

Tiba-tiba…

“TOLONGGGGG!!!! TOLONGGG!!! KANGGG… ADA YANG NGERUSAK TENDA! TOLONG SAYA! TOLONG SAYA!!”

Suara teriakan itu berasal dari tenda di belakang kami. Jaraknya sekitar 100 meter dari tenda kami. Ternyata, di dalam tenda doom merah itu, seorang pendaki laki-laki terjebak di dalam tenda. Sendirian.

Dia teriak-teriak minta tolong karena tidak bisa keluar dari tenda lantaran di pintu masuk tenda, ada babi hutan super besar lagi asyik makan sisa nasi yang dibuang begitu saja di depan tenda mereka.

Lalu, saya mendengar ada orang berteriak, “BABIIII!!! BABIII!! CEWEK-CEWEK JANGAN KELUAR TENDA! AMANKAN MAKANAN!”

Roger dan Loren langsung keluar tenda. Saya dan Christy juga penasaran. Saya langsung ambil headlamp, dan melihat: YA AMPUN! Bener-bener babi-gede-banget. Gede banget ini beneran segede anak sapi, bukan babi hutan yang biasa. Saya gak tau sih itu jenis apa. Kulitnya warna abu-abu cenderung putih, taringnya panjang dan dia makan tanpa suara.

Astaga, serem abis. Merinding deh.
babi_h10

“COWOK-COWOK SENTERIN BABI!” teriak seseorang.

Ramai-ramai, para pendaki menyorotkan senter ke mata babi langsung. Sejenak, babi itu menatap kami.. dan eh, dia melanjutkan makan dengan tenangnya.

BABINYA NGGAK TAKUT ORANG WOIII! PANGGIL RANGERRR!”

Akhirnya, seorang penjaga datang dengan seekor anjing dan berhasil menghalau babi itu pergi ke atas, ke dalam hutan.

Setelah serangan itu, kami tak bisa tidur dengan tenang. Kami meminta tenda sebelah agar merapikan makanan dan sampahnya. Mereka membereskan sampah nasi itu dan pindah lokasi berkemah.

Entah dapat ide dari mana, Loren menyiram minyak kayu putih di sekeliling tenda. (Dia gak tau kali minyak kayu putih mahal hiks). Katanya, supaya bau sisa makanan gak kecium babi. Karena kabarnya babi takut bunyi-bunyian, kami memasang krincingan (lonceng) di pintu tenda dan menyalakan lampu tenda.

Dan babinya beneran dateng lagi.

Jurus minyak kayu putih Loren kayaknya manjur. Jadi si babi hanya berlari melewati tenda kami.

image

image (1)

Esok paginya, saya, Christy dan Loren pergi ke puncak dan membiarkan Roger menjaga tenda. Dari perbincangan dengan para pendaki, ternyata pada malam saat si babi melewati tenda kami, babi itu merobek salah satu tenda pendaki. Beruntung, tidak ada yang terluka.

Seorang penjaga bilang, babi memang sering turun ke bawah. Apalagi, belum lama ini hutan papandayan ( di atas Tegal Alun) sempat kebakaran. Babi yang menyerang malam itu, katanya memang sudah tidak takut manusia.

Setelah makan enak di siang hari, kami turun ke bawah. Sampai di bawah, kami sempat mengobrol lagi dengan grup pendaki lokal. Mereka merupakan pendaki profesional yang memang sering membuka jalur-jalur baru untuk pendakian Papandayan.

Nah, salah satu pendaki itu bilang, babi besar itu dikasih nama sama warga. Tapi saya lupa namanya. Dia emang bandel dan suka merusak tenda, mencuri makanan pendaki di malam hari. Biasanya, babi hutan cukup pengecut kalau digertak. Tapi, babi di Papandayan ini tidak takut siapapun, sehingga, kalau sudah merusak, sulit diusir.

Jadi lebih baik, gunakan tiga tips yang saya kutip dari Kompastravel berikut ini, untuk menghindari serangan babi saat berkemah:

1. Simpan makanan

Babi hutan datang ke tenda pendaki untuk mencari makanan. Setelah memasak untuk makan malam, simpanlah makanan di dalam tenda maupun digantung di dahan pohon. Hindari area tenda yang berantakan karena makanan-makanan sisa makan malam.

2. Hindari makanan berbau

Bau makanan yang mencolok seperti ikan sarden bisa menjadi daya tarik untuk babi hutan datang. Bawalah makanan-makanan yang tak berbau amis. Selain itu, setelah makan malam misalnya dengan ayam goreng, pisahkan tulang ke tempat yang tak dapat dijangkau oleh babi butan.

3. Hindari sampah di area kemah

Babi hutan gemar mencari sisa-sisa makanan di area tumpukan sampah. Disarankan untuk membereskan bekas bungkus makanan, tempat memasak, dan juga hal-hal yang dapat menarik datangnya babi hutan sebelum tidur pada malam hari.

Intinya, jangan malas untuk merapikan sisa sampah. Dan jangan lupa bawa pulang lagi sampah-sampah kita.🙂

image (4)

4 thoughts on “Papandayan dan Babi Hutan Super Jumbo

  1. Gita Novianti

    HAHAHAHAHA.
    Kampret banget minyak kayu putihnya kebuang2.
    Besok2 kali dikejar babi lgsg lari zigzag ya beb *buktiin teori babi hutan gak bisa belok*

    1. Wahahaha. Iyak kalo ada sevel, dia pasti lagi kongkow beli slurpee sama mi ramen kayaknya beb, gak pake ngerusak tenda sama nyolong makanan. Tp sumpah itu pertama kali liat babi dan serem abis. wkwkwk babi oh babi.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s