Apa yang Gunung Gede Ajarkan Pada Saya…

img_1477

Gerimis mulai mengguyur hutan tropis yang tumbuh rapat itu. Beban di punggung saya terasa semakin berat. Sembilan jam sudah kami berjalan menanjak. Matahari mulai menghilang dan tubuh menggigil kedinginan.

Pikiran meracau, bertanya-tanya berapa lama lagi sampai saya bisa menghangatkan diri di dalam tenda. Saya berbicara pada pohon, pada akar, pada bulir-bulir air yang mulai membasahi tanaman. Saya memohon, “Tolonglah Semesta, jangan hujan dulu sampai kami tiba di Suryakencana“.

Nafas saya mulai terengah. Saya bertanya pada Rogger, apa memungkinkan kalau kita buka tenda di jalur gunung putri ini. Karena saya sudah sangat letih.

“Tidak aman di sini. Jalan pelan-pelan saja ya. Kalau capek berhenti sebentar, yang penting tetap jalan walau hanya beberapa langkah. Pasti kita sampai. Pasti.” ujarnya menguatkan.

Berikhtiar agar tak cepat mengalah pada lelah, kami berempat terus berjalan, meski dalam diam. Padahal beberapa jam sebelumnya, kami selalu tertawa dan bercanda. Bahkan mulanya kami yakin, dalam perjalanan kali ini kami bisa menginjakkan kaki di dua puncak sekaligus, Gede dan Pangrango. Pangrango, gunung yang paling disukai Soe Hok Gie.

Sudah berbulan-bulan saya mengimpikan duduk di tugu triangulasi, tempat Soe Hok Gie juga pernah duduk sambil menopang dagu. Saya ingin berdoa dan merenungkan puisinya tentang Lembah Mandalawangi, tempat di mana abu jasadnya ditaburkan. Saya berusaha terus berjalan, sambil membayangkan, jalur mana yang dilewati Soe Hok Gie kala itu. Apakah ia juga merasakan lelah dan gigil seperti ini.

13599978_10205312867736036_1788901279097544892_n

Satu jam berlalu dan belum juga ada tanda-tanda kami akan tiba di Suryakencana. Febian dan Christy yang awalnya berjalan paling depan, mulai terlihat kepayahan. Kami berganti-ganti posisi berjalan, dan saling menepuk pundak mengingatkan jika ada yang melamun dengan pikiran kosong.

Rogger mengajarkan saya untuk selalu menyiapkan diri dengan baik sebelum mendaki. Saya sudah berkali-kali menonton video pendakian gunung gede via jalur putri di youtube. Video tahun 2015 itu memperlihatkan jalur yang menurut saya tidak susah. Tapi nyatanya, erosi sudah membuat tapak tangga batu hancur dan membuat medan semakin sulit.

Saya pun teringat papan pendanda pendakian yang mengatakan jalur gunung putri bisa ditempuh normal selama 6 jam. Di sinilah mungkin gunung menegur saya. Mungkinkah karena di awal saya sudah jumawa dengan jalur yang saya pikir gampang ini.  Karena kini kami sudah berjalan hampir 9 jam. Saya makin merasa minder dan berpikir “jalanku lambat sekali“. Padahal ini adalah perjalanan kedua saya ke Gunung Gede. Tetapi dua tahun lalu, saya tiba di puncak Gede melalui jalur Cibodas.

Di tengah perjalanan, saya tiba-tiba teringat perkataan seorang teman, “Badan lo gemuk gini mau ndaki gunung…” Terlintas pula tawa mereka yang selalu mengejek postur tubuh saya. Kembali terngianglah segala ketidakmungkinan itu.

Saya berusaha keras menepis jauh-jauh perasaan buruk itu dan mencoba mengingat-ingat tujuan awal perjalanan ke Gunung Gede ini. Bukan. Ternyata tujuan saya bukan sekedar untuk mengecup puncak-puncak tertinggi. Bahkan bukan untuk membuktikan “lihat nih! gue nih bisa lho!” pada mereka yang selalu menggoyangkan semangat saya. Tak sesederhana itu.

img_1475

 

Semesta dengan bulir-bulir hujannya menampar lembut wajah saya. Mengingatkan bahwa tujuan perjalanan ini adalah untuk menilai diri sendiri. Mencoba bersahabat dengan segala kekurangan diri. Belajar berani memupuk banyak-banyak harapan kala pikiran bahkan berkata “Ini semakin mustahil”.

Saya teringat berbagai proses yang sudah saya jalani, ketika saya tidak menyesal kala mendaki Gunung Semeru dan tak berhasil menggapai puncaknya. Saya tidak pernah menyesal. Karena menyadari itulah batas kemampuan saya, saat itu. “Belum saatnya kamu tiba di sana,” ujar semesta.

Beberapa jam kemudian, pohon-pohon mulai terlihat merenggang dan tibalah kami berempat di padang edelweis terbesar di Indonesia, Suryakencana. Kami memperkirakan harus berjalan sekitar 30 menit lagi supaya bisa dekat dengan sumber air. Namun, gelap sudah datang. Kabut sudah turun dan jarak pandang hanya beberapa meter saja. Sehingga, diputuskan kami mendirikan tenda di tempat seadanya, masih jauh dari sumber air.

13654328_10205312866416003_7520135717044717129_n

Kami adalah satu-satunya pendaki di Suryakencana. Karena hari itu adalah bulan puasa. Tak kami temukan satu tenda pun pada malam itu. Badai mulai datang dan kami sudah kehabisan air. Ternyata rencana saya menghangatkan diri di dalam tenda masih belum bisa dilakukan.

Kami buru-buru mendirikan tenda yang kami bawa dengan susah payah, karena angin dingin yang kencang menusuk-nusuk tulang. Tapi tetap saja kami harus mencari air. Akhirnya kami mengambil air dari kubangan hujan. Selama tidak berwarna dan berbau, air hujan bisa diminum.

Saya bersyukur pada akhirnya bisa berganti baju yang kuyup ini dengan baju hangat. Kami berempat saling merapatkan diri. Setelah makan kenyang dan minum air hujan yang dimasak, kami pun terlelap. Esok pagi, kami siap mencumbui Puncak Gede.

Kami memutuskan untuk tidak memaksakan diri mendaki Pangrango karena kondisi fisik yang tidak memungkinkan. Di perjalanan pulang, semesta memberi bonus berbagai pemandangan yang tak akan pernah saya lupakan.

Saya melihat Elang Jawa yang terbang gagah, primata Owa Jawa berwarna keabuan yang riang bermain dari satu pohon ke pohon lainnya, anggrek hutan yang sedang mekar-mekarnya, air terjun yang jernih, telaga biru yang cantik, spot air hangat, dan kicauan burung-burung yang riuh menemani perjalanan pulang kami.

img_1488

Ada kutipan terkenal di gunung yang sebenarnya sangat logis dan bermakna besar buat saya: “Pelan-pelan aja, gunungnya nggak pindah kok.

Saya bersyukur tetap bisa kembali ke Puncak Gunung Gede, meski belum tiba di Pangrango. Gunung akan setia. Ia akan menanti saya, entah kapan jika ada kesempatan untuk bisa kembali lagi.

Setidaknya, dalam setiap perjalanan ke gunung saya tak hanya membawa pulang kelelahan, tetapi juga banyak pelajaran. Saya makin mencintai Tanah Air ini dan ingin menjalani hidup bersamanya. Hingga nanti ketika tiba saatnya harus kembali menjadi debu, saya ingin tidur kekal didekap tanah sang Ibu Pertiwi.

Terimakasih Gede-Pangrango.🙂

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s