Menikmati Sang Fajar di Gunung Prau

IMG20161009053953.jpg

Bayangkan berdiri di tanah berumput dengan udara pagi yang lembab. Angin bertiup dingin. Lalu, Sang Fajar muncul dari balik gunung, membawa udara yang lebih hangat. Selayang pandang terlihat lautan awan yang beriak mengitari puncak empat gunung yang berdiri megah. Biru, hijau, oranye, dan putih dalam satu bingkai. Di situlah kami sedang berdiri – di puncak bayangan Gunung Prau – yang kata orang kebanyakan, merupakan salah satu tempat terbaik untuk menikmati indahnya mentari pagi.

Tidur dengan posisi duduk tegak selama sekitar sepuluh jam perjalanan ternyata lumayan pegal juga. Kami memang salah strategi. Mempersiapkan perjalanan ke Prau hanya dalam waktu sepekan ternyata menghasilkan pilihan-pilihan yang serba terbatas. Kereta Bogowonto Jakarta-Purwokerto yang kami incar karena bisa ditempuh dalam waktu 5 jam sudah ludes terjual.

Alhasil, kami harus menerima kenyataan dengan naik kereta Serayu Malam pukul 21.00 dengan jarak tempuh 10 jam 30 menit karena melewati jalur Bandung. Kami terbagi menjadi dua rombongan. Rombongan satu bernama Rombongan Gendats, terdiri dari saya, Christy, Gayatri, Agus, dan Roger. Rombongan dua bernama Rombongan Gendits yaitu Wisnu dan Sabrina.

img20161009085155

Rombongan Gendats inilah yang harus tidur berdempetan dengan timbunan lemak menjuntai di kereta Serayu. Sedangkan Rombongan Gendit memilih naik travel ke Purwokerto karena Sleeper Bus (bus baru yang ada tempat tidurnya) yang diincar juga sudah ludes dipesan rombongan lain.

Kami tiba di Stasiun Purwokerto sekitar pukul 08.00. Wisnu dan Sabi yang sudah tiba lebih dulu menjemput kami di Stasiun. Kami mampir ke rumah orang tua Wisnu di Purbalingga untuk melepas lelah. Rumahnya sangat asri dan nyaman, dan tentu saja penuh dengan makanan enak.

Setelah makan ayam goreng buatan ibunya Wisnu, packing ulang, dan mandi (saya dan dua saudara saya tidak mandi, karena sejak kecil kami dididik untuk hemat air #prinsip), kami pun bersiap ke Prau melalui jalur Patak Banteng. Kami diantar teman ke Dieng dengan mobil sewaan.

Ibu dan Ayah Wisnu yang baik hati membekali kami berbagai camilan. Kami pun berangkat setelah saya dan Christy adu argumen cukup serius menyoal apakah kami perlu minta dibungkusin ayam goreng yang tersisa di meja atau tidak. Untuk menjaga nama baik kakak kami, saya dan Christy sepakat tidak jadi minta dibungkusi ayam itu. #behave

Sebelum ke basecamp, tak lupa mampir dulu di Mi Ongklok Wonosobo yang terkenal itu. Posisinya dekat dengan alun-alun Wonosobo. Seporsi mi ongklok hanya sekitar Rp 20.000 saja. Kuahnya memang kental mirip ingus troll tapi rasanya jangan ditanya. Maknyos Jos Gandos! Apalagi ditambah potongan cabe, gorengan tempe yang banyak tepungnya itu, dan sate ayam yang manis. Saya pengin sekali bungkus untuk makan di puncak, tetapi terlalu malu.

IMG20161008132630.jpg
Akhirnya kami tiba di basecamp Patak Banteng Pendakian Gunung Prau sekitar pukul 14.30. Ada beberapa jalur pendakian di Prau. Patak Banteng adalah jalur yang paling singkat namun sangat menanjak. Di sini, kami bayar registrasi sekitar Rp 10.000 per orang. Cuaca yang awalnya hanya gerimis, tiba-tiba menjadi hujan deras. Ranger meminta kami menunggu hujan agak reda karena jalur sangat licin. Akhirnya, kami baru bisa berangkat sekitar jam 15.30.

img20161008141143

Di sinilah terlihat siapa pendaki panthera dan siapa pendaki keong. Tentu saja saya dan Roger setia menjadi pendaki keong yang berjalan paling belakang. Anggaplah kami berdua ini sepasang sweeper yang memastikan tak ada kawan yang tertinggal di belakang. Heheh. Kami pun membelah diri lagi menjadi dua rombongan. Mereka yang jalannya cepat, diharapkan tiba lebih dulu di pelataran untuk membuka tenda.

Ada tiga pos pendakian untuk menuju puncak bayangan dan perkemahan. Di jalur Patak Banteng ini tak ada bonus trek. Medan pendakian berupa tangga tanah yang sangat licin dipijak. Di sinilah kami menyadari kalau salah strategi kedua adalah tak ada di antara kami yang pakai sepatu gunung. Kami pakai sendal gunung yang sudah lanjut usia dan solnya mulai aus.

img20161009134355

Saya dan Christy sudah memperkirakan, dengan kondisi normal, perjalanan bisa ditempuh sekitar 2 jam saja. Waktu tempuh itu harus dikalikan dua untuk pendaki slow motion seperti saya. Sehingga, maksimal pendakian ini, kami perkirakan empat jam. Dan prediksi itu betul. Diwarnai perjalanan terpeleset beberapa kali hingga kram, akhirnya saya dan Roger yang menjadi rombongan terakhir tiba di pelataran pada pukul 19.30 malam. *koe emang setrong, rin*

Mahadasyat Ciptaan-Nya

Puncak Prau sebenarnya masih 30 menit-1 jam dari pelataran. Namun, tempat kami berkemah ini diyakini menjadi spot paling bagus jika ingin menikmati sunrise. Hujan gerimis semalaman membuat kami cukup khawatir akan mendapat kabut di pagi hari. Sehingga malamnya saya berdoa lumayan khusyuk agar kami diberi kesempatan melihat pemandangan indah di pagi harinya tanpa tertutup kabut.

Dan Tuhan mengabulkannya.

img20161009061949

img20161009062756

Pukul 06.30 pagi.
“Itu gunung apa ti?”
“Si kembar Sindoro dan Sumbing itu!!”
“Oh lihat yang itu! Sebelahnya itu! Merapi dan ibunya, Merbabu!”
“Ini lihat ini, bunga daisy. Waktu aku kesini, bunga ini sampai tertutup es,” cerita Christy.

img20161009070059

Hamparan bunga daisy yang cantik berada di sekeliling perkemahan. Sampai puncak pun, bunga daisy-lah yang kami temukan. Setelah sarapan, kami packing cukup cepat dan turun melalui jalur Dieng pada pukul 09.00. Perjalanan pulang seharusnya dihiasi pemandangan-pemandangan cantik. Katanya, Telaga Warna Dieng dan perkebunan-perkebunan warga akan terlihat jelas melalui jalur ini. Namun, kabut cukup tebal, sehingga kami belum bisa melihat keindahan itu.

img20161009053729

Setibanya di puncak, kami berpisah dengan Wisnu dan Sabi yang harus turun lebih dulu karena mengejar kereta ke Jakarta jam lima sore. Kami beristirahat cukup lama di Puncak, lalu kami turun dengan slow motion karena hujan deras dan jalanan becek berlumpur. Terhitung, saya terpeleset sampai enam kali. (Kalo kepeleset sekali lagi kuyakin ‘kan dapat hadiah piring atau payung. *yhea)

img20161009095802

img20161009092901img20161009093122

Tetapi saya sempat berlama-lama berjalan untuk menikmati keindahan kebun warga. Wortel dan kentangnya besar-besar sekali. Ada kol dan juga cabai yang lebih mirip paprika ukuran kecil. (Lalu terbayang semangkuk sop yang mengepul panas).

 

Kami pun tiba di basecamp Dieng sekitar pukul 14.00 siang. Hujan turun cukup deras. Basecamp di Dieng ini masih baru. Tempatnya cukup nyaman dan hangat untuk beristirahat. Tak lupa kami juga melapor via sms kepada ranger di Patak Banteng, mengabarkan kalau kami sudah tiba dengan selamat di basecamp.

Kami memang merencanakan untuk menginap semalam lagi di Kota Wonosobo. Kami pun naik bus ke Wonosobo dari Dieng. Karena busnya ada sampai jam 4 sore saja, kami harus cepat-cepat. Bayar Rp 20.000 per orang dan kami tiba di hotel Arjuna dekat alun-alun.

IMG20161009093630.jpg

Kami berlima menutup hari dengan makan Bebek Slamet yang super enak.

“Oh, Tuhan telah menciptakan bebek yang begitu ena kalau dimasak seperti ini. Ku ingin bungkus buat di Jakarta deh,”
“Bebek Slamet di Jakarta juga banyak, dongok!”

Oyhaaaaa ~~~~~~/(”  -,-)/

***

Trimakasih ya Prau yang syantik. Tunggu ku kembali…

Rincian budget per orang:
-Berangkat: Kereta Serayu Malam Rp 67.000
-Transportasi mobil (sewa) purwokerto-patak banteng plus sewa tenda dan nesting Rp 80.000
-Makan mi ongklok + es teh manis + gorengan Rp 25.000
-Registrasi pendakian Rp 10.000
-Transportasi Dieng-Wonosobo Rp 20.000
-Travel Wonosobo-Purwokerto Rp 50.000
-Pulang: Kereta Progo Rp 125.000

Total per orang (+/-) Rp 377.000

 

IMG20161010092135.jpg

7 thoughts on “Menikmati Sang Fajar di Gunung Prau

    1. iyaaa. aku udah incar prau semenjak baca blog kamu yg ke dieng ituh. xixixixi. *terinspirasi. Tapi sayangnya waktu nya kurang pas karena naik ujan, turun ujan. Jadi pemandangan dieng ketutup kabut. Kapan2 pengin lagi ah yang gak perlu nginep.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s